IKLAN
Advertorial

Kerja Keras Distanbun NTB Menjaga Harga Cabai Tetap Stabil

Mataram (NTB Satu) – Salah satu tugas serius Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB adalah memastikan harga cabai di daerah tetap stabil. Bagaimana pun juga,  jika harga melonjak, maka berdampak pada inflasi pada komoditi pangan strategis. Masyarakat sebagai konsumen yang paling merasakan pedasnya harga mahal yang pernah tembus Rp80.000 sampai Rp10.000.

Petani adalah salah satu aspek yang paling diperhatikan, karena mereka lah ujung tombak dari rantai produksi komoditi Cabai dari lahan sampai ke tangan konsumen.

IKLAN

Bidang Hortikulura Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB menggelontorkan bantuan stimulan  kepada para petani melalui gabungan kelompok tani (Gapoktan) agar kualitas cabai dan fluktuasi harga tetap terjaga. Dua diantaranya kepada Gapoktan Beriuk Pacu 2 di Desa Umbe Baru Kecamatan Kediri Lombok Barat dan Gapoktan Tegal Jaya di Kelurahan Babakan Kota Mataram.

“Di Gapoktan ini, kami terus memberikan pembinaan, terutama bagaimana penyediaan pasar. Tujuan lainnya, memastikan harganya tetap stabil saat harga merosot atau melonjak,” kata Kabid Hortikultura, Distanbun Prov. NTB, Ir. Iswan Chiaidir.

Gapoktan pun merasakan keuntungan dengan bantuan yang diberikan, karena secara terbuka diakui sangat membantu peningkatan produktivitas hasil panen cabai. Demikian juga dengan para petani, merasakan perbedaan hasil panen yang cukup melimpah, karena  tim penyuluh pertanian memberikan pendampingan melekat.

“Kami berterima kasih kepada Distanbun Provinsi NTB karena terus memberikan pendampingan lewat penyluh. Kami juga tetap diberikan bantuan stimulan berupa pupuk dan bibit,” ujar Ketua Gapoktan, Beriuk Pacu 2, Tahmid.  

Selain pembinaan ke Kelompok tani di Kabupaten dan Kota, Dinas Pertanian juga mejaga agar terjadi perluasan areal tanam di seluruh daerah, meski tantangannya terjadi penyusutan area. Seperti tahun tahun 2021 dengan luas 8,679 Hektar, menjadi 8,049 hektar.

Kendati demikian, angka produksi ternyata tidak berbanding lurus dengan ketersediaan lahan. Sebab terjadi peningkatan jumlah produksi yang puncaknya terjadi pada tahun 2018 sebesar 2,105,303 kuwintal. Meski sempat menurun, namun target tahun ini akan digenjot mencapai 1 juta kwital.  (HAK/*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button