Daerah NTB

Dikbud NTB Jelaskan Kisruh Proyek SMA 3 Wera Berujung Siswa Blokade Jalan

Mataram (NTB Satu) – SMAN 3 Wera, Bima masih berada dalam kondisi tersegel pada Kamis, 21 Juli 2022. Selain itu, siswa-siswi dari sekolah tersebut diketahui telah melakukan aksi blokade jalan sebagai sikap tidak menerima sekolah tersegel.

Kepala Bidang Pendidikan SMA, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, Drs. Lalu Muhammad Hidlir M.Pd., mengatakan, penyegelan SMAN 3 Wera Kota Bima, tidak memiliki keterkaitan apapun dengan pemerintah Provinsi NTB, dalam hal ini Dinas Dikbud NTB. Pasalnya, orang-orang yang menyegel SMAN 3 Wera merupakan buruh yang mengerjakan proyek pembangunan gedung sekolah.

Menurut Hidlir, kontraktor telah memberikan pekerjaan ke sejumlah buruh untuk membangun gedung sekolah tanpa sepengetahuan Dinas Dikbud NTB. Pada masa pengerjaan gedung sekolah, progres pembangunan gedung cenderung stagnan. Sehingga, kontraktor mendapatkan teguran kemudian terpaksa menambah buruh, tanpa sepengetahuan buruh terdahulu.

“Setelah pembangunan gedung terselesaikan, para buruh mengklaim bahwa upah belum terbayarkan dengan jumlah yang sebenarnya tidak jelas. Akhirnya, agar tidak menimbulkan kekisruhan, kami menjadi jembatan antara pihak kontraktor dan pihak buruh,” cerita Hidlir, ditemui NTB Satu di ruang kerjanya, Kamis, 20 Juli 2022.

Setelah melalui proses cukup lama, kontraktor sempat mengirimkan uang sebanyak dua kali dengan jumlah yang pernah disepakati oleh kedua belah pihak. Namun, para buruh tidak kunjung merasa cukup dan menginginkan jumlah upah yang lebih besar.

“Kami dahulu pernah membuka segel yang dilakukan para buruh. Tapi, sampai sekarang mereka malah menyegel lagi,” ungkap Hidlir.

Saat ini, berbagai pihak cenderung menyalahkan Dinas Dikbud NTB. Padahal, menurut pengakuan Hidlir, Dinas Dikbud NTB telah memenuhi berbagai hal yang harus dipenuhi, seperti pembayaran dan lain-lain. Kendati demikian, Hidlir tetap menerima apabila disebut sebagai pihak yang tidak terlalu mengontrol mengenai keterlibatan para buruh dalam membangun gedung baru SMAN 3 Wera, Bima.

“Terkait dengan siswa-siswi yang memblokade jalan di Wera, Bima, harus segera ada penyelesaian yang melibatkan pihak kontraktor dan pihak buruh kemudian difasilitasi oleh pihak kepolisian,” tekan Hidlir.

Secara personal, Hidlir tidak menyukai dan tidak menyepakati tindakan penyegelan sekolah dan blokade jalan. Terlepas dari terdapatnya utang yang belum terbayarkan, Hidlir berharap agar permasalahan tersebut dapat terselesaikan. Jangan lagi terdapat sekolah yang tersegel dan blokade jalan.

“Menurut saya, aparat penegak hukum mesti turun tangan dalam menemukan solusi konkret untuk permasalahan blokade jalan dan penyegelan sekolah. Permasalahan utang antara kontraktor dan buruh, harus segera dilakukan negosiasi ulang,” saran Hidlir.

SMAN 3 Wera, Bima harus segera dibuka. Jangan sampai masalah antara pihak kontraktor dan pihak buruh membuat sekolah tidak boleh dibuka. Menurut pernyataan para buruh-buruh, selama utang belum terbayarkan, penyegelan tidak akan terbuka.

“Kedua belah pihak harus sama-sama berbesar hati dalam menuntaskan problema penyegelan sekolah. Bangunlah komunikasi secara intens agar proses pelunasan utang segera terselesaikan,” harap Hidlir.

Dinas Dikbud NTB tetap bersedia untuk memfasilitasi kedua belah pihak. Namun, tidak boleh terdapat pemaksaan dalam bentuk apapun, baik dari pihak kontraktor mau pun pihak buruh. (GSR)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button