Daerah NTB

Abadikan Sejarah Letusan Rinjani dan Tambora, NTB Bangun Dua Museum Internasional

Mataram (NTB Satu) – NTB diharapkan memiliki museum yang menampung berbagai hal mengenai peristiwa meletusnya Gunung Rinjani dan Gunung Tambora. Sebab, Gunung Rinjani dan Tambora diketahui pernah membuat peradaban dunia berubah.

Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah M.Sc., mengatakan, banyak pihak menyarankan agar NTB memiliki dua museum khusus yang menghidangkan sejarah dan dampak letusan Gunung Rinjani dan Tambora. Zulkieflimansyah memastikan wacana tersebut harus segera direalisasikan. Oleh karena itu, Zulkieflimansyah berpesan agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB bergerak cepat.

IKLAN

“Dua museum tersebut mampu memberikan kesan kepada para wisatawan tentang perubahan peradaban dunia yang disebabkan oleh Gunung Rinjani dan Tambora,” ungkap Zulkieflimansyah, ditemui NTB Satu di Taman Mayura, Mataram, Sabtu, 21 Mei 2022.

Ia menekankan, dua museum tersebut harus terealisasi sebelum perhelatan World Superbike (WSBK) pada bulan November mendatang. Ide mengenai pembuatan dua museum tersebut dapat segera disampaikan kepada publik.

“Nanti akan diarahkan untuk bekerjasama dengan geopark Tambora dan Rinjani,” ujar Zulkieflimansyah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Dr. H. Aidy Furqan M.Pd., mengatakan, permintaan Gubernur membuatnya kaget. Sebab, membangun sebuah museum bukan hal mudah. Aidy mengatakan, ia telah ditugaskan untuk membangun dua museum berksala internasional.

“Pembangunan dua museum tersebut telah kami diskusikan. Selain itu, museum tersebut tidak akan dibuka hanya untuk lokal,” ungkap Aidy, ditemui NTB Satu di Taman Mayura, Mataram, Sabtu, 21 Mei 2022.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB akan mengabadikan perjalanan sejarah Gunung Rinjani dan Tambora. Aidy menerangkan, pengabadian tersebut bakal berupa aneka replika. Ia memberitahu, satu dari dua museum tersebut bakal dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika.

“Selain itu, akan didukung pula oleh replika bangunan tradisional dan tradisi kearifan lokal. Kami akan siapkan kontennya terlebih dahulu. Untuk lokasi satunya, masih belum ditentukan. Membangun, kan, tidak semudah yang dibayangkan,” pungkas Aidy. (GSR)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button