Waspada LSD, Kabupaten Sumbawa Perketat Pengawasan Lalu Lintas Sapi dan Kerbau
Sumbawa Besar (NTBSatu) – kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan Dinas Pertenakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Sumbawa, drh. Rini Handayani, meminta perketat pengawasan lalu linta sapi dan kerbau.
Peringatan ini menyusul adanya temuan kasus penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit pada sapi di wilayah Jembrana, Bali.
Instruksi tersebut berlaku untuk wilayah kerja BBVet Denpasar yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Rini menegaskan, pihaknya langsung menindaklanjuti imbauan tersebut. Yaitu, memperketat pengawasan lalu lintas hewan ternak, khususnya sapi dan kerbau yang rentan tertular LSD.
“BBVet Denpasar sudah menyampaikan informasi resmi agar kami melakukan kewaspadaan. Apalagi NTB dan Bali berdekatan, terutama jalur penyeberangan Lembar-Padang Bai,” ujarnya kepada wartawan, Kamis, 29 Januari 2026.
Rini menjelaskan, meski pengiriman ruminansia dari dan ke Bali saat ini telah ada pembatasan, potensi penularan tetap ada melalui sarana angkut ternak. Salah satu kekhawatirannya adalah kendaraan untuk mengangkut unggas atau ternak lain sebelumnya pernah mengangkut sapi atau kerbau.
“Ini yang harus kita antisipasi. Karena itu, di karantina kita lakukan disinfeksi terhadap alat angkut ternak,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Hewan Sumbawa meningkatkan pengawasan lalu lintas sapi dan kerbau secara berjenjang sesuai kewenangan masing-masing wilayah. Selain itu, memperkuat koordinasi lintas petugas.
“Hari ini saya sudah melakukan Zoom dengan Kepala UPT Prokeswan dan dokter hewan Puskeswan se-Kabupaten Sumbawa untuk kewaspadaan dini,” katanya.
Pemkab Sumbawa juga memperluas pengawasan ke instalasi pemeriksaan ternak, tempat penampungan ternak, rumah potong hewan, serta kawasan sentra peternakan. Pemerintah meminta para pengusaha ternak melakukan disinfeksi sebelum memasuki instalasi pemeriksaan.
Tak hanya itu, pihaknya juga mengintensifkan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat dan peternak terkait LSD. Menurut Rini, tidak semua benjolan pada tubuh sapi merupakan gejala LSD.
“Banyak yang mengira semua bentol itu LSD, padahal belum tentu. Ini perlu pemahaman yang benar,” tegasnya.
Rini memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus LSD di Kabupaten Sumbawa. Meski demikian, kebersihan dan sanitasi kandang hingga sarana pengiriman ternak tetap harus ditingkatkan.
Ia menambahkan, apabila LSD menyerang ternak, dampaknya cukup serius karena dapat merusak kualitas daging dan menurunkan harga jual di pasaran. “Karena itu kewaspadaan harus kita lakukan sejak dini,” pungkasnya. (*)




