Lombok Timur

Karhutla Bukit Setampol TNGR Capai 127 Hektare

Lombok Utara (NTBSatu) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tepatnya di Bukit Setampol, Resor Torean, Kabupaten Lombok Utara. Api membakar sekitar 127 hektare lahan yang didominasi rumput ilalang.

Kebakaran mulai terpantau pada Selasa, 22 September 2026 sekitar pukul 18.50 Wita. Petugas hingga Rabu, 23 September 2026 masih melakukan pemantauan dan pengendalian di lokasi.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB Sadimin mengatakan, kebakaran kini menyisakan satu titik api. Petugas terus memantau titik tersebut untuk mencegah api meluas.

IKLAN

“Update pukul 16.50 Wita, saat ini tinggal satu titik yang terbakar dengan luasan sekitar 127 hektare,” kata Sadimin, dalam keterangan tertulis, Rabu, 23 September 2026.

Menurutnya, petugas menghadapi kondisi medan yang cukup berat. Lokasi titik api berada jauh dari akses utama.

Petugas membutuhkan waktu sekitar enam jam untuk mencapai lokasi. Medan juga memiliki tebing yang menyulitkan proses pemadaman. “Kondisinya cukup jauh, sekitar enam jam perjalanan. Lokasinya juga berada di tebing,” ujarnya.

IKLAN

Cuaca turut menjadi kendala. Kabut menyelimuti kawasan tersebut. Angin juga masih bertiup sehingga petugas harus memperhitungkan kondisi lapangan saat melakukan pengendalian api.

BPBD Provinsi NTB terus berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan BPBD Lombok Utara. Koordinasi juga melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).

Petugas sebelumnya melakukan pemadaman awal dan pengendalian kebakaran. Mereka juga memantau perkembangan api untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.

BPBD NTB akan menambah personel menuju lokasi pada Kamis, 24 September 2026. Tambahan itu terdiri dari empat orang Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut), tiga anggota MPA, dua personel Manggala Agni, dan dua petugas TNGR.

Penambahan personel tersebut untuk memperkuat upaya pengendalian di lokasi yang sulit dijangkau.

Penyebab Masih Diselidiki

Sadimin mengatakan, petugas masih menyelidiki penyebab kebakaran. BPBD bersama pihak terkait terus mengumpulkan informasi mengenai awal munculnya api.

Sementara itu, kawasan yang terbakar mayoritas berupa rumput ilalang. Kondisi vegetasi yang kering membuat api berpotensi cepat menjalar, terutama ketika angin bertiup.

“Kami mengimbau masyarakat ikut mencegah kebakaran hutan dan lahan. Jangan membakar hutan maupun lahan untuk membuka kebun atau membersihkan area,” ujarnya.

Warga juga perlu memastikan api benar-benar padam setelah melakukan pembakaran yang mendapat izin sesuai aturan.

Masyarakat diminta tidak membuang puntung rokok atau benda lain yang dapat memicu api secara sembarangan. Warga juga perlu segera melaporkan jika melihat titik api di kawasan hutan dan lahan.

“Segera laporkan apabila melihat titik api atau kebakaran kepada aparat desa, petugas pemadam kebakaran, BPBD, atau instansi terkait,” kata Sadimin.

BPBD juga mengingatkan pendaki yang beraktivitas di kawasan Rinjani dan memilih Torean sebagai pintu keluar. Petugas dapat mengarahkan pendaki untuk menggunakan jalur Sembalun atau Senaru sesuai kondisi dan arahan petugas Balai TN Gunung Rinjani di lapangan.

BPBD meminta masyarakat meningkatkan kepedulian dan kesiapsiagaan. Langkah pencegahan menjadi penting untuk mengurangi risiko Karhutla, terutama saat kondisi kawasan hutan dan lahan mengering. (*)

Artikel Terkait