PemerintahanPendidikan

Dikpora Beberkan Kondisi Sekolah di NTB, Separuh Bangunan Berusia Puluhan Tahun

Mataram (NTBSatu)Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikpora) NTB mencatat, sekitar 50 persen bangunan SMA, SMK, dan SLB NTB telah berusia 20 hingga 26 tahun.

Kepala Dikpora NTB, Syamsul Hadi mengatakan, usia bangunan tersebut relatif sama dengan sejumlah gedung sekolah yang mengalami kerusakan dalam beberapa waktu terakhir. Termasuk gedung yang roboh di SMAN 7 Mataram dan SMAN 1 Lingsar.

“Usia sekolah sama dengan usia gedung yang rusak kemarin itu ada yang 20 tahun, ada yang 26 tahun. Itu kondisinya, sekitar 50 persenan bangunan kita,” kata Syamsul kepada NTBSatu, Rabu, 17 Juni 2026.

IKLAN

Meski demikian, Syamsul menegaskan usia bangunan tidak selalu mencerminkan tingkat kerusakan. Ia menjelaskan, Dinas Pekerjaan Umum (PU) memiliki kewenangan untuk menilai kondisi dan tingkat kerusakan bangunan sekolah.

“Kalau tingkat kerusakannya nanti PU yang berwenang mengeluarkan. Bukan kami, karena ahlinya kan PU,” ujarnya.

Menurut Syamsul, bangunan dengan usia yang sama belum tentu memiliki kondisi serupa. Banyak faktor memengaruhi ketahanan bangunan. Mulai dari kualitas konstruksi hingga jenis penggunaan material.

IKLAN

“Tidak semua usia yang sama itu memiliki tingkat kerusakan yang sama atau kerusakan yang tinggi. Karena memang di berbagai tempat ragam konstruksi maupun jenis kayu dan sebagainya berbeda-beda,” katanya.

Ia bahkan menemukan sejumlah bangunan sekolah yang telah berusia puluhan tahun namun masih dalam kondisi baik.

“Ada yang saya lihat juga, bahkan ada 50 tahun tapi kuat. Jadi sangat tergantung dari analisis kajian yang PU lakukan,” ujarnya.

Pasca robohnya gedung di SMAN 7 Mataram dan SMAN 1 Lingsar, ia meminta seluruh sekolah memeriksa kondisi bangunan dan menghentikan aktivitas belajar di gedung yang berpotensi membahayakan siswa maupun tenaga pendidik.

“Jika gedung sekolah itu berbahaya, untuk sementara jangan gunakan sebagai tempat belajar agar tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan,” tegasnya.

Syamsul meminta pihak sekolah memindahkan kegiatan pembelajaran ke lokasi yang lebih aman serta terus melaporkan kondisi bangunan kepada pihaknya.

Perbaikan Jadi Prioritas Utama

Ia menegaskan, revitalisasi sekolah menjadi prioritas utama. Setelah menerima laporan terkait robohnya gedung sekolah, Syamsul langsung menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan penanganan awal.

Tim tersebut kemudian berkoordinasi dengan berbagai pihak, terutama Dinas PU, guna menganalisis tingkat kerusakan bangunan.

“Begitu dua kejadian tersebut, saya dan tim langsung turun dan kemudian berkoordinasi dengan semua pihak, terutama pihak PU. Kemudian, kita langsung melakukan analisis kerusakan,” katanya.

Untuk revitalisasi gedung SMAN 1 Lingsar, Syamsul mengaku telah melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah pusat sekaligus mengawal usulan bantuan perbaikan.

“Tiga hari setelah kejadian saya langsung ke Jakarta untuk langsung mengawal proposalnya supaya pusat memberikan perhatian. Alhamdulillah, di Jakarta sudah ada lampu hijaunya,” katanya. (*)

Artikel Terkait