Pemerintahan

SMAN 1 Lingsar Roboh, Dikpora NTB Khawatir Banyak Sekolah Tua Bernasib Serupa

Mataram (NTBSatu) – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikbudpora) NTB mengungkap, banyak sekolah di NTB memiliki bangunan berusia puluhan tahun. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius, setelah dua ruangan di SMAN 1 Lingsar roboh pada Minggu dini hari, 7 Juni 2026.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTB, Syamsul Hadi, langsung meminta seluruh kepala sekolah melakukan pemeriksaan menyeluruh, terhadap kondisi bangunan sekolah masing-masing. Ia tidak ingin kejadian serupa terulang, dan menimbulkan korban jiwa.

“Yang paling penting sekarang adalah mitigasi. Kalau ada ruang yang berbahaya atau mengkhawatirkan, lebih baik kosongkan dulu. Jangan sampai kita menunggu kejadian baru bergerak,” katanya saat meninjau lokasi robohnya bangunan SMAN 1 Lingsar, Senin, 8 Juni 2026.

IKLAN

Syamsul menilai, peristiwa di SMAN 1 Lingsar menjadi momentum untuk mengevaluasi kondisi fisik sekolah-sekolah di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi NTB. Ia menduga usia bangunan menjadi faktor utama yang memicu ambruknya ruang guru dan ruang belajar tersebut.

“Bangunan ini memang sudah termakan usia. Karena itu saya minta semua sekolah melakukan review kembali terhadap kondisi gedung mereka,” ujarnya.

Menurut Syamsul, ia telah mengirim surat edaran kepada seluruh sekolah agar melakukan pengecekan bangunan. Namun, robohnya gedung di SMAN 1 Lingsar menunjukkan ancaman kerusakan bangunan tua masih nyata.

IKLAN

Ia mengungkapkan, banyak kepala sekolah mulai melaporkan kondisi gedung yang memiliki usia puluhan tahun. Meski belum mengantongi data rinci, laporan awal menunjukkan jumlahnya cukup banyak.

“Sangat banyak sekolah yang usianya sama. Bahkan ada yang dibangun pada periode yang sama. Sekarang kami sedang mengumpulkan data untuk mengetahui kondisi sebenarnya,” katanya.

Sekolah Tua Jadi Alarm Keselamatan

Kondisi itu membuat Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTB harus bergerak cepat. Syamsul khawatir ada sekolah lain yang justru memiliki tingkat kerusakan lebih parah dibandingkan SMAN 1 Lingsar, tetapi belum terdeteksi.

“Bisa saja usianya sama, tapi tingkat kerusakannya berbeda. Justru yang kami khawatirkan ada bangunan lain yang kondisinya lebih parah dan belum terlaporkan,” ujarnya.

Selain faktor usia, Syamsul menduga gempa bumi yang mengguncang wilayah Lombok beberapa waktu lalu turut mempercepat kerusakan bangunan.

“Memang gempa itu kecil, tetapi bisa saja menjadi pemicu. Di Lingsar, kerusakan mulai terlihat setelah gempa terjadi,” katanya.

Pasca kejadian tersebut, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTB langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak. Syamsul meminta tim teknis melakukan analisis lapangan dan menggandeng Dinas PUPR untuk menilai tingkat kerusakan bangunan.

“Begitu menerima laporan, saya langsung meminta PUPR menurunkan tim. Alhamdulillah hari Minggu kemarin mereka langsung turun,” ujarnya.

Di saat yang sama, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTB juga mulai melobi pemerintah pusat agar memberikan perhatian khusus terhadap SMAN 1 Lingsar. Syamsul mengaku, sudah berkomunikasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait kebutuhan rehabilitasi bangunan yang ambruk.

“Saya sudah berkomunikasi dengan kementerian dan ada sinyal positif. Tapi kami tetap harus mengawal usulan ini supaya bisa segera realisasinya,” katanya.

Syamsul menegaskan, keselamatan siswa dan guru harus menjadi prioritas utama. Karena itu, ia meminta seluruh sekolah tidak memaksakan penggunaan ruang yang sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius.

“Kita tidak bisa mencegah bangunan tua dari proses penuaan. Tetapi kita bisa mengantisipasi risikonya. Yang wajib kita lakukan adalah memastikan tidak ada korban akibat kelalaian mengawasi kondisi bangunan sekolah,” tegasnya.

Robohnya dua ruangan di SMAN 1 Lingsar kini tidak lagi dipandang sebagai kasus tunggal. Peristiwa itu menjadi alarm bagi pemerintah untuk memetakan kondisi gedung sekolah tua di NTB sebelum bencana serupa terjadi di tempat lain. (*)

Artikel Terkait

Back to top button