Kota Mataram

Kasus Pembacokan Libatkan Anak, Psikolog Soroti Pentingnya Deteksi Dini Perilaku Agresif

Mataram (NTBSatu) – Rangkaian kasus pembacokan yang menyebabkan korban meninggal dunia di Kota Mataram kembali memicu keprihatinan publik.

Kasus kriminalitas yang melibatkan kalangan usia muda ini membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Berbagai pihak perlu mengevaluasi akar permasalahan secara menyeluruh, sekaligus merumuskan langkah pencegahan.

Menanggapi fenomena tersebut, dokter spesialis kedokteran jiwa Rumah Sakit Mutiara Sukma (RSMS), dr. Sindi Antika, Sp.KJ. menegaskan, pencegahan yang efektif harus mulai sejak tanda-tanda awal muncul, bukan ketika seorang remaja sudah terlanjur terlibat dalam tindakan kriminal.

“Pencegahan yang efektif harus sudah mulai ketika tanda-tanda awal muncul. Bukan ketika seorang remaja sudah terlibat dalam tindak kriminal,” ujarnya kepada NTBSatu pada Kamis, 5 November 2026.

Akar Masalah Psikologis

Perilaku kekerasan ekstrem seperti pembacokan tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ada proses psikologis, perkembangan biologis, dan pengaruh lingkungan yang saling berinteraksi.

Pada masa remaja, terdapat ketidakseimbangan perkembangan antara sistem otak yang berkaitan dengan emosi dan penghargaan dengan sistem yang berperan dalam pengendalian impuls, perencanaan, serta pengambilan keputusan.

Kendati demikian, perkembangan otak tersebut bukan alasan otomatis bagi remaja untuk melakukan kekerasan karena mayoritas remaja tidak melakukan tindakan kekerasan ekstrem. Tidak ada satu faktor tunggal yang melatarbelakangi keterlibatan remaja dalam kriminalitas jalanan.

Risiko tersebut meningkat ketika beberapa faktor saling berinteraksi tanpa adanya faktor pelindung yang memadai. Keluarga menjadi lingkungan pertama tempat anak belajar memahami emosi dan menyelesaikan konflik.

Jika anak terbiasa melihat orang dewasa menyelesaikan masalah melalui ancaman atau kekerasan fisik, mereka akan menganggap agresi sebagai cara yang dapat mereka terima. Selain keluarga, tekanan kelompok sebaya memegang peran besar.

Remaja yang merasa tidak dihargai di rumah atau sekolah kerap mencari kelompok yang memberikan identitas dan pengakuan.

“Ketika loyalitas kelompok dibangun melalui intimidasi, perkelahian, atau serangan terhadap kelompok lain, remaja dapat terdorong melakukan tindakan yang sebenarnya tidak akan ia lakukan ketika sendirian,” jelasnya.

Urgensi Deteksi Dini

Orang tua perlu memahami pengasuhan bukan sekadar memastikan anak mendapatkan kebutuhan fisik, melainkan juga keterhubungan emosional. Orang tua dan pihak sekolah wajib mewaspadai sejumlah perubahan perilaku anak.

Pertama, peningkatan perilaku agresif atau ancaman terhadap orang lain. Kedua, keterlibatan berulang dalam perkelahian. Ketiga, kebiasaan membawa senjata atau membicarakan rencana untuk melukai seseorang.

Keempat, perubahan pergaulan yang disertai intimidasi, pemerasan, atau perilaku kriminal. Kelima, penurunan fungsi sekolah yang disertai perilaku berisiko semakin berat.

Penanganan tidak cukup terbebankan kepada kepolisian setelah kekerasan terjadi. Perlunya kerja sama terpadu antara sektor pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, layanan sosial, keluarga, masyarakat, dan aparat penegak hukum.

“Kita tidak cukup hanya bertanya, ‘Mengapa anak ini menjadi pelaku kekerasan?’ Kita juga harus bertanya, ‘Apa yang tidak berjalan dalam lingkungan di sekitarnya. Apa yang dapat kita perbaiki agar anak-anak lain tidak mengalami hal yang sama?,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait