103 Gempa Guncang NTB dalam Sepekan, Sumbawa Alami 58 Sambaran Petir
Mataram (NTBSatu) – BMKG mencatat 103 kejadian gempa bumi di wilayah NTB selama kurun waktu 16 hingga 23 Oktober 2026.
Kendati angka aktivitas kegempaan terpantau relatif tinggi, seluruh rangkaian gempa tersebut tidak memicu guncangan yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat setempat.
Sumber Dinamika Tektonik Regional
BMKG mengidentifikasi aktivitas gempa bumi di wilayah NTB bersumber dari dinamika tektonik yang cukup kompleks. Sebagian besar kejadian gempa berasal dari aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak menyusup ke bawah Lempeng Eurasia.
Selain fenomena subduksi lempeng, pergerakan patahan aktif berupa Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust) turut memicu serangkaian getaran. Petugas Stasiun Geofisika Mataram juga merekam aktivitas seismik yang bersumber dari sesar aktif di darat sekitar kawasan Gunung Tambora.
Meskipun instrumen pencatat mendeteksi lebih dari seratus aktivitas seismik secara kontinu selama sepekan, warga di wilayah NTB tidak melaporkan adanya guncangan.
BMKG memastikan tidak ada satu pun kejadian gempa dalam periode tersebut yang memiliki magnitudo serta kedalaman yang cukup untuk memicu dampak getaran di permukaan bumi.
Sumbawa Dominasi Sambaran Petir
Selain memantau aktivitas gempa bumi, BMKG juga merekam dinamika cuaca ekstrem berupa aktivitas petir. Petugas mendeteksi sebanyak 58 kejadian sambaran petir di seluruh wilayah NTB pada periode 16 hingga 22 Oktober 2026.
Kabupaten Sumbawa mencatatkan konsentrasi kejadian terbanyak daripada daerah lain di NTB. Wilayah tersebut mendominasi dengan total 51 kejadian sambaran petir, sementara wilayah kabupaten dan kota lainnya hanya menyumbang sisa kejadian dalam porsi yang sangat kecil.
Rangkaian pemantauan geofisika mingguan ini juga mencakup pengukuran parameter kemagnetan bumi. Pada periode yang sama, BMKG mencatat nilai indeks K sebesar 3 dan nilai indeks A maksimum mencapai 9,5.
BMKG menyajikan seluruh data tersebut dalam bentuk infografis berkala sebagai bagian dari pelayanan informasi publik serta upaya mitigasi bencana alam secara berkelanjutan di wilayah NTB. (*)




