Sekolah Ditutup Akibat Karhutla Indonesia, Datuk Eric Chong Desak Pemimpin ASEAN Bertindak
Mataram (NTBSatu) – Krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali memicu penutupan fasilitas pendidikan di sejumlah wilayah Malaysia. Hal ini akibat setelah indeks pencemaran udara melampaui ambang batas aman.
Kondisi tersebut memantik tanggapan keras dari tokoh publik, Datuk Eric Chong yang mendesak para pemimpin negara anggota ASEAN segera mengambil langkah konkret tanpa menunda penanganan lingkungan.
“Sekolah-sekolah di seluruh Malaysia tutup, bukan kerana virus, kerana udara,” ujarnya, mengutip Instagram @datuk.ericchong pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Aturan penutupan sekolah berlaku di setiap wilayah dengan Indeks Pencemaran Udara (IPU) melampaui angka 180. Kebijakan tersebut berdampak langsung pada terhentinya kegiatan belajar tatap muka.
Tindakan ini menyusul langkah yang sebelumnya sudah Johor dan ratusan sekolah di Sarawak terapkan akibat buruknya kualitas udara karena Karhutla.
Kritik Efektivitas Perjanjian Regional
Datuk Eric Chong menyoroti penanganan masalah asap yang menurutnya tidak menunjukkan kemajuan, meski kawasan Asia Tenggara telah menekan perjanjian penanggulangan asap lintas batas sejak 2002.
Menurutnya, dampak pembakaran hutan demi mengeruk keuntungan ekonomi telah merampas hak anak-anak atas udara bersih serta pendidikan yang layak.
“Ini bukan mengenai orang Indonesia, anak-anak mereka juga tidak boleh bernafas. Ini mengenai orang yang membakar hutan untuk keuntungan,” tegasnya.
Ia turut mengapresiasi langkah penegakan hukum domestik yang menetapkan ratusan tersangka serta menyelidiki puluhan perusahaan terkait. Kendati demikian, ia menegaskan penindakan hukum yang dilakukan setelah kebakaran terjadi tidak mampu memulihkan kualitas udara yang telanjur kotor.
Desakan Penindakan Hukum dan Pemboikotan
Guna mengakhiri persoalan menahun yang berlangsung sejak dekade 1990-an ini, Chong mendorong para kepala pemerintahan di ASEAN segera mengadakan perundingan darurat.
Ia menyatakan dukungannya terhadap seruan Menteri Besar Johor agar para pemimpin regional segera duduk bersama merumuskan penyelesaian tuntas.
“Ketua Menteri Johor telah menyeru rundingan kecemasan. Saya bersetuju dengannya. Pemimpin ASEAN harus merdeka sekarang. Ini adalah krisis. Untuk bertemu bukan untuk menyalahkan satu sama lain. Ia adalah untuk mencari penyelesaian untuk menghentikan ini,” ujarnya.
Chong menekankan pertemuan tingkat tinggi tersebut bukan wadah untuk saling melempar kesalahan, melainkan momentum mencari solusi permanen, menghukum pelaku, dan memboikot produk dari entitas yang merusak lingkungan. Ia menyadari penanganan krisis udara bersih membutuhkan komitmen nyata demi menjamin kelangsungan hidup generasi mendatang. (*)




