Diduga Jadi Ladang Bisnis, Warga Gaza Minta Masyarakat Hentikan Donasi ke Palestina
Mataram (NTBSatu) – Seorang warga Gaza, Palestina yang kini tinggal di Indonesia, Ahmed Shorafa menjadi sorotan publik, setelah menyuarakan dugaan praktik penyalahgunaan donasi untuk Palestina.
Ia menyampaikan pandangannya melalui akun Instagram pribadinya @ahmed.shorafa1 dan menyinggung, adanya pola pengumpulan dana yang tidak transparan.
Ahmed mengaku, beberapa kali menerima tawaran kerja sama dari sejumlah yayasan. Tawaran itu berisi kegiatan keliling masjid untuk menyampaikan kondisi Gaza, sekaligus menggalang donasi. Ia menyebut, imbalannya mencapai Rp1,5 juta per hari atau sekitar Rp45 juta per bulan.
“Sebulan haji aku bisa sampai Rp45 juta, aku nolak karena itu haram. Hanya ngobrol 30 menit di masjid, bikin orang sedih karena Palestina, terus dibayar Rp1,5 juta,” ungkapnya, mengutip unggahan Instagram @ahmed.shorafa1 pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Ahmed menilai, sebagian pihak menjadikan isu kemanusiaan Palestina sebagai peluang bisnis. Menurutnya, kondisi tersebut jauh dari tujuan utama bantuan untuk warga Gaza.
Ia juga menjelaskan pandangannya, mengenai besarnya dana yang terkumpul dari Indonesia. Menurutnya, jika seluruh donasi tersalurkan secara utuh, pembangunan Gaza bisa melaju jauh lebih cepat.
“Jumlah donasi dari Indonesia aja sebenarnya udah cukup buat bikin Gaza jadi kayak Singapura, bahkan tanpa ngitung bantuan dari negara-negara lain,” lanjutnya.
Minta Hentikan Donasi ke Palestina
Ahmed memaparkan, sebagian dana donasi kerap berputar dalam kegiatan internal sebelum sampai ke tujuan utama. Ia menilai, kondisi ini berpotensi mengurangi manfaat bagi masyarakat Gaza yang membutuhkan bantuan langsung.
“Uang yang kalian donasikan itu niatnya buat beli makanan dan bantu rakyat Palestina yang lagi kelaparan di sana, bukan buat dibagi-bagi dulu di sini, baru sisanya dikirim,” ungkapnya.
Ia juga mengimbau agar masyarakat lebih selektif dalam menyalurkan bantuan. Ahmed meminta publik menghentikan donasi melalui pihak yang tidak memiliki transparansi jelas. Ia menyarankan, agar bantuan langsung dikirim kepada warga Gaza melalui transfer bank.
“Jangan donasi untuk Palestina, karena kalau semua uang donasi itu benar-benar sampai ke Palestina Gaza, harusnya sekarang orang di sana sudah hidup makmur dan pada naik Ferrari semua,” ujarnya.
Ahmed menyampaikan, keberaniannya berbicara muncul dari keprihatinan terhadap pola yang ia saksikan sendiri. Ia menilai, keterlibatan sebagian pihak dalam penggalangan dana tidak selalu sejalan dengan tujuan kemanusiaan.
Ia juga menyoroti, minimnya edukasi publik terkait Palestina dalam sejumlah kegiatan penggalangan dana. Menurutnya, banyak acara lebih menekankan pengumpulan donasi dibandingkan penyampaian informasi mendalam.
“Coba jujur saja, pernah enggak kalian lihat acara tentang Palestina tetapi enggak buka donasi? Enggak pernah kan? Enggak ada yang ngasih edukasi,” ucapnya.
Ahmed menutup pernyataannya dengan menyinggung, tingkat pemahaman publik terkait isu Palestina yang dinilainya masih rendah. Ia menilai, penggunaan isu Palestina sering muncul karena tingginya empati masyarakat Indonesia terhadap konflik tersebut. (*)




