BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan di NTB pada Maret 2027
Mataram (NTBSatu) – Stasiun Klimatologi NTB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal Musim Hujan 2026/2027 di seluruh wilayah NTB terlambat atau mundur jika dibandingkan dengan rerata historis periode 1991-2020.
Keterlambatan awal musim hujan ini mencakup 100 persen wilayah NTB yang tersebar di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Hal ini sesuai tanggapan dari prakirawan Staklim NTB, Tri Putri Ganesh Suadnya.
“Musim Hujan 2026/2027 di wilayah NTB secara umum akan datang lebih akhir (mundur), memiliki sifat hujan di normal hingga atas normal (lebih basah). Itu akan berlangsung dengan durasi yang lebih pendek dari normalnya,” ujarnya kepada NTBSatu pada Rabu, 30 September 2026.
Pergeseran Musim Hujan
Berdasarkan data analisis BMKG, sebanyak 93 persen luasan wilayah NTB baru mulai memasuki musim hujan pada Desember 2026. Secara terperinci, sebanyak 37 persen Zona Musim (ZOM) mengawali musim hujan pada pertengahan Desember 2026.
Sementara itu, 56 persen ZOM lainnya baru memasuki musim hujan pada sepuluh hari terakhir Desember 2026.
Dinamika atmosfer global menjadi pemicu utama fenomena keterlambatan ini.
BMKG mendeteksi kondisi El Nino Sangat Kuat yang bertahan hingga awal tahun 2027. Selain itu, anomali suhu permukaan laut di sekitar Indonesia bagian barat dan selatan yang terpantau dingin, sehingga membatasi pertumbuhan awan hujan.
Angin baratan atau Monsun Asia yang membawa udara basah baru diprediksi aktif di wilayah Indonesia pada November 2026. Kendati datang terlambat, BMKG memproyeksikan sifat hujan pada periode ini Lebih banyak kategori Atas Normal atau lebih basah yang mencakup 52 persen wilayah.
Di sisi lain, keterlambatan ini berdampak langsung pada masa berlangsungnya hujan. BMKG memprediksi durasi musim hujan berlangsung lebih pendek dari normalnya di 99 persen wilayah NTB. Durasi dominan berkisar antara 10 hingga 12 dasarian atau sekitar 3 hingga 4 bulan.
Mengenai fase puncak musim hujan, mayoritas wilayah NTB atau sebanyak 78 persen area baru akan menyentuh fase puncak pada Maret 2027.
Rekomendasi Mitigasi dan Penyesuaian
Mengingat durasi hujan yang lebih singkat namun berpotensi membawa akumulasi curah tinggi, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah dan masyarakat.
Pada sektor pertanian, BMKG meminta para petani melakukan penyesuaian jadwal tanam, memilih varietas tanaman yang tepat, serta membenahi sistem drainase lahan guna mencegah risiko gagal panen akibat banjir.
BMKG juga mengingatkan sektor kesehatan untuk mengantisipasi potensi gangguan sanitasi dan penyakit menular. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dini terhadap ancaman banjir, genangan air, dan tanah longsor. Hal ini potensi curah hujan berintensitas tinggi dalam durasi yang singkat. (*)




