Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Ekonomi Warga Desa Adat Sade Pasca Kebakaran
Lombok Tengah (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah belum memprioritaskan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari kawasan wisata Desa Adat Sade setelah proses rekonstruksi pascakebakaran. Pemda memilih memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat terlebih dahulu.
Sekda Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya mengatakan, pemerintah masih fokus mengembalikan roda ekonomi warga Sade setelah kebakaran yang melanda kawasan tersebut.
“Untuk sementara kita belum berpikir berapa yang akan diperoleh. Yang penting roda ekonomi di Sade bisa berjalan dulu,” kata Firman, Kamis 10 September 2026.
Firman menjelaskan, rekonstruksi Sade tidak sekadar membangun kembali rumah warga. Pemerintah memandang Sade sebagai situs budaya sehingga proses pemulihan tetap menjaga karakter kawasan tersebut.
“Rekonstruksi Sade itu berbeda dengan rekonstruksi bangunan permukiman atau perumahan. Ini adalah situs budaya,” kata Firman.
Ia menjelaskan, rekonstruksi akan mencakup sejumlah perbaikan, mulai dari prasarana dasar, jaringan drainase dan sanitasi, keselamatan pengguna, aksesibilitas, hingga penggunaan material bangunan.
“Kita akan mengembalikan Sade dan memperbaiki Sade seperti Sade sebelumnya, dengan dilakukan perbaikan-perbaikan utama prasarana dasar, jaringan drainase, jaringan sanitasi, keselamatan pengguna, aksesibilitas, dan kemudian penggunaan material,” jelasnya.
Selain rekonstruksi kawasan, pemerintah bersama sejumlah pihak juga menyiapkan fasilitas pendukung untuk menggerakkan kembali ekonomi dan aktivitas wisata Sade.
Salah satunya museum yang akan memuat koleksi budaya Sade serta berbagai hal yang berkaitan dengan kebakaran.
“Untuk ekonominya akan dibangun museum. Museum yang berisi koleksi-koleksi Sade, koleksi-koleksi budaya, kemudian koleksi-koleksi yang terkait dengan bencana,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah menyiapkan galeri atau ruang aktivitas bagi pelaku UMKM di area parkir sebelah kawasan Sade.
“Akan dibangun semacam galeri sebagai tempat aktivitas para pelaku UMKM. Itu sedang proses desain,” tandasnya.
Potensi PAD dari Parkir
Firman menyebut, pemerintah memang sudah memikirkan potensi penerimaan daerah setelah aktivitas wisata kembali berjalan.
Salah satu peluangnya berasal dari pengelolaan parkir. Pemerintah desa juga berencana ikut terlibat dalam pengelolaan kawasan untuk mendorong Pendapatan Asli Desa (PADes).
Namun, pemerintah tidak ingin menarik penerimaan sebelum ekonomi masyarakat kembali pulih.
“Ekonomi itu berjalan dulu. Pulih,” ujarnya.
Firman menilai penerimaan daerah dapat mengikuti ketika aktivitas ekonomi Sade sudah berkembang. Pemerintah kemudian dapat mengatur mekanisme pajak atau retribusi sesuai ketentuan.
Menurutnya, terlalu cepat mengejar PAD justru berisiko menghambat pemulihan ekonomi warga yang saat ini terdampak bencana. (*)




