Lombok TengahPendidikan

Anak-anak Sade Kembali Beraktivitas, Relawan Siapkan Perlengkapan Sekolah Pascakebakaran

Lombok Tengah (NTBSatu) – Anak-anak korban kebakaran Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, mulai kembali menjalani rutinitas melalui kegiatan di posko trauma healing.

Penanggung jawab posko trauma healing anak, Nur Ain Hussin, mengatakan sekitar 70 hingga 100 anak mengikuti kegiatan setiap hari.

Relawan mengisi waktu mereka dengan berbagai aktivitas agar anak-anak tetap aktif dan tidak terus memikirkan kejadian kebakaran.

IKLAN

“Kita setiap hari memikirkan kegiatan apa saja supaya anak itu tidak bosan atau tidak terganggu. Setiap hari kita berkegiatan terus untuk membentuk kembali mental dan emosional mereka,” kata Nur Ain kepada NTBSatu, Rabu, 26 Agustus 2026.

Kegiatan berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 15.30 Wita. Anak-anak mengikuti sesi belajar, menggambar, bermain gim, menari, bernyanyi hingga meditasi. Relawan juga menyediakan aktivitas berbeda seperti merajut.

Nur Ain melihat kondisi anak-anak saat ini lebih banyak menunjukkan rasa kaget atau shock akibat kejadian tersebut. Menurutnya, relawan perlu membantu anak kembali menjalani aktivitas tanpa terus menempatkan mereka sebagai korban.

IKLAN

“Kalau mereka mungkin lebih ke syok sih, tapi selagi kita menunjukkan mereka bahwa ini akan baik saja, saya rasa mereka juga akan tenang,” ujarnya.

Selain pemulihan psikologis, relawan kini fokus mengembalikan anak-anak ke sekolah. Sejumlah anak belum dapat masuk sekolah karena seragam dan perlengkapan belajar mereka ikut terbakar.

Data Ukuran Seragam

Relawan telah mendata ukuran pakaian dan sepatu masing-masing anak. Mereka menyiapkan seragam, sepatu, tas, serta alat tulis yang rencananya mulai dibagikan pada Kamis, 27 Agustus 2026.

“Besok kita akan bagikan ke anak-anak. Jadi paling lambat satu minggu lagi, Senin sudah mulai sekolah seperti biasa,” katanya.

Terkait hal itu, anak-anak di sana merasa senang karena dapat bermakn dan belajar bersama teman temannya.

“Senang, karena banyak temennya disini buat main,” ujar beberapa anak.

Sementara itu, orang tua, khususnya para ibu, belum banyak mengikuti kegiatan trauma healing. Mereka masih fokus membersihkan rumah dan membereskan sisa-sisa kebakaran.

Nur Ain berharap sanggar belajar yang selama hampir enam bulan menjadi ruang aktivitas anak-anak dapat kembali dibangun. Ia ingin tempat tersebut nantinya tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga wadah untuk mengembangkan kemampuan dan keberanian anak.

“Kita berharap mampu membangun kembali sanggar belajarnya, supaya kita masih bisa lanjut memberikan anak-anak ini pendidikan yang bagus, yang hebat,” tutupnya. (*)

Artikel Terkait