Advertorial

Menjaga Tradisi, Menghidupkan Inovasi: Sekolah Tenun Pringgasela Selatan dalam Program Inovasi Seni Nusantara

Mataram (NTBSatu) – Di Pringgasela Selatan, Kabupaten Lombok Timur, bunyi alat tenun bukan sekadar suara dari aktivitas sehari-hari. Irama ‘sek-sek’ saat masyarakat merapatkan benang telah lama mengiringi kehidupan warga. Masyarakat kemudian mengenal istilah tenun sesek dari bunyi tersebut dan mewariskannya secara turun-temurun.

Di balik suara alat tenun yang terdengar dari rumah-rumah penenun, tersimpan pengetahuan, keterampilan, dan identitas budaya yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Pringgasela selama puluhan tahun.

Namun, tradisi tersebut menghadapi tantangan regenerasi. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta semakin terbatasnya ruang belajar membuat proses pewarisan keterampilan menenun tidak lagi seintensif dulu. Jika sebelumnya anak-anak belajar menenun dari keluarga dan lingkungan sekitar, kini kesempatan tersebut semakin terbatas.

IKLAN

Kondisi inilah yang mendorong Kelompok Nina Penenun (KNP) Pringgasela Selatan menginisiasi Sekolah Tenun. Komunitas merancang ruang belajar ini untuk mengenalkan kembali tradisi tenun kepada generasi muda. Peserta belajar sejarah tenun, nilai budaya, hingga keterampilan menenun secara langsung dari para penenun berpengalaman.

Inisiatif KNP kemudian mendapat dukungan dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) oleh tim Universitas Hamzanwadi melalui kegiatan bertajuk “Edukasi Seni Tenun dan Diversifikasi Motif Sundawa Berbasis Sejarah dan Budaya Pringgasela Selatan”.

Dukungan tersebut mencakup penyusunan kurikulum mini, bahan ajar, dokumentasi pengetahuan lokal, pengembangan motif, serta eksplorasi pewarna alami berbasis potensi lingkungan dan budaya setempat.

IKLAN

Menenun sebagai Pengetahuan yang Hidup

Tenun kerap dipandang sebagai kerajinan atau produk ekonomi kreatif. Padahal, proses di balik selembar kain mencakup keterampilan teknis, kreativitas, pengetahuan lingkungan, dan nilai budaya yang diwariskan antargenerasi.

Motif, warna, susunan benang, dan teknik pengerjaan menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat yang melahirkannya.

Di Sekolah Tenun, peserta mempelajari tenun secara lebih utuh. Mereka mengenali unsur visual dalam motif, memahami maknanya, mempelajari alat dan bahan, mengenal jenis benang, mencoba pewarnaan alami, hingga mempraktikkan teknik dasar menenun.

Ketua Kelompok Nina Penenun (KNP), Sri Hartini, mengatakan Sekolah Tenun dibentuk untuk memastikan pengetahuan para penenun tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kami ingin pengetahuan yang selama ini dimiliki para penenun tidak berhenti pada generasi sekarang. Sekolah Tenun menjadi ruang belajar untuk berbagi pengalaman, keterampilan, dan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tradisi tenun Pringgasela Selatan tetap hidup dan berkembang,” ujarnya.

Menurut Sri, banyak pengetahuan menenun yang sulit disampaikan hanya lewat tulisan. Keterampilan tersebut lebih mudah dipahami melalui praktik dan interaksi langsung dengan penenun.

Mempertemukan Tradisi dan Pendekatan Akademis

KNP memegang peran utama dalam proses pembelajaran. Para penenun berpengalaman berperan sebagai pengajar sekaligus sumber pengetahuan lokal.

Tim kemudian memadukan pengetahuan tersebut dengan pendekatan akademis melalui penyusunan kurikulum mini dan bahan ajar.

Ada enam materi utama yang dipelajari peserta: sejarah dan budaya tenun Pringgasela, pengenalan motif Sundawa, alat tenun, benang, pewarnaan alami, dan teknik dasar menenun. Setiap materi dilengkapi praktik, diskusi, serta evaluasi.

Ketua Tim Program Inovasi Seni Nusantara, Suhupawati mengatakan, program tersebut hadir untuk memperkuat upaya yang telah KNP lakukan.

“KNP telah memiliki pengalaman panjang dalam menjaga tradisi tenun di Pringgasela Selatan. Kami berupaya mendukung inisiatif tersebut dengan penyusunan kurikulum pembelajaran, dokumentasi pengetahuan lokal, serta pengembangan inovasi motif dan pewarna alami yang tetap berpijak pada identitas budaya masyarakat Pringgasela,” ujar Suhupani.

Menurutnya, pelestarian budaya akan lebih kuat ketika masyarakat menjadi pelaku utama. Perguruan tinggi dapat berperan sebagai mitra yang membantu memperkuat pembelajaran dan pengembangan pengetahuan.

Motif Sundawa sebagai Ruang Kreativitas

Sekolah Tenun mengangkat Motif Sundawa sebagai salah satu materi utama dalam tradisi tenun Pringgasela. Menurut penuturan masyarakat setempat, nama Sundawa berkaitan dengan sungai atau aliran air yang melintasi wilayah tersebut. Motifnya tersusun dari garis dan bentuk geometris yang terbentuk sejak penataan benang hingga proses penenunan.

Dalam program ini, peserta tidak berhenti pada pengenalan bentuk asli Motif Sundawa. Mereka juga mengembangkan variasi baru sambil tetap mempertahankan karakter budaya Pringgasela Selatan

Para peserta mengeksplorasi komposisi, warna, ukuran, serta penerapan motif pada berbagai produk kreatif. Dengan cara ini, tradisi memiliki ruang untuk berkembang dan mengikuti kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Pembelajaran juga mencakup eksplorasi pewarna alami. Peserta berkenalan dengan berbagai sumber warna dari lingkungan sekitar, seperti daun, kulit kayu, akar, buah, dan biji-bijian.

Proses tersebut memperkaya keterampilan teknis sekaligus mengenalkan alternatif pewarnaan yang lebih ramah lingkungan.

Peserta belajar bahwa menghasilkan warna membutuhkan ketelitian. Jenis bahan, suhu, lama pencelupan, hingga teknik pengolahan dapat memengaruhi hasil akhir. Para peserta kemudian mencatat dan mendokumentasikan setiap percobaan agar dapat mempelajarinya kembali

Dukungan Pemerintah Desa untuk Pelestarian Budaya

Pemerintah Desa Pringgasela Selatan menyambut pelaksanaan Sekolah Tenun yang KNP gagas dan perkuat melalui Program Inovasi Seni Nusantara.

Kepala Desa Pringgasela Selatan melalui Sekretaris Desa, Salman Sopian, menilai Sekolah Tenun penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya masyarakat.

“Tenun merupakan identitas budaya yang telah diwariskan oleh leluhur masyarakat Pringgasela. Kami mengapresiasi Kelompok Nina Penenun yang selama ini konsisten menjaga tradisi tersebut melalui Sekolah Tenun. Program ini bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan perempuan.”

Menurut Salman, kolaborasi antara komunitas, perguruan tinggi, dan pemerintah desa dapat memperkuat upaya pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.

Sekolah Tenun memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak berarti sekadar mempertahankan apa yang telah ada. Tradisi akan terus hidup ketika generasi muda mendapat ruang untuk mempelajari, mengkreasikan, dan mengembangkannya tanpa meninggalkan nilai budaya yang menjadi akarnya.

KNP, Universitas Hamzanwadi, pemerintah desa, dan masyarakat kini memiliki ruang kolaborasi yang lebih terarah untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan tenun.

Dari bunyi “sek-sek” yang terdengar di rumah-rumah penenun Pringgasela, lahir lebih dari sekadar selembar kain. Para peserta mempelajari sejarah, mewarisi keterampilan, mengembangkan motif, serta merawat identitas budaya untuk generasi berikutnya. (*)

Artikel Terkait