Unram Gandeng AMMAN Perkuat Literasi AI, Siapkan Lulusan Sesuai Kebutuhan Industri
Mataram (NTBSatu) – Universitas Mataram (Unram) bersama PT Amman Mineral memperkuat kolaborasi dalam pengembangan literasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagi mahasiswa dan tenaga pendidik.
Kerja sama tersebut hadir melalui program AI Ready ASEAN yang berlangsung di Kampus Unram pada Rabu hingga Kamis, 19 Agustus 2026. Kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan dunia industri.
Pelatihan AI Ready ASEAN mendapat dukungan ASEAN Foundation dan Google.org. Program tersebut menyasar mahasiswa serta dosen agar memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi AI secara produktif, bertanggung jawab, dan sesuai kebutuhan era digital.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi Unram, Dr Sitti Latifah menjelaskan, kolaborasi dengan PT Amman Mineral sejalan dengan arah transformasi akademik yang menjadi fokus kampus pada periode 2025-2029.
“Jadi kalau Universitas Mataram, mulai tahun 2025 sampai 2029 memang rencana strategisnya ini adalah terkait dengan transformasi akademik. Terutama periode Rektor yang baru ini, kami melakukan transformasi di bidang akademik,” ujarnya, Rabu, 18 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, Unram telah mengembangkan program pembelajaran Literasi Abad 21 sebagai salah satu instrumen penguatan kompetensi mahasiswa.
Program tersebut tidak hanya mengajarkan penggunaan teknologi digital, tetapi juga menanamkan kemampuan mengelola informasi secara bijak dan bertanggung jawab.
Menurutnya, dosen dari berbagai bidang ilmu seperti Sosiologi, Teknik Informatika, dan Ilmu Komunikasi menyusun materi pembelajaran secara kolaboratif.
Langkah tersebut bertujuan membangun pemahaman bahwa digitalisasi tidak sekadar memindahkan proses manual ke sistem digital, melainkan juga membentuk pola pikir yang mampu memanfaatkan teknologi secara tepat.
Kolaborasi Tutup Kesenjangan Kompetensi
Sitti menilai, keterlibatan industri dalam pengembangan kurikulum menjadi kebutuhan penting bagi perguruan tinggi saat ini. Kampus dan industri perlu berjalan seiring agar kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kalau dulu universitas menyiapkan tenaga, kemudian industri menyerapnya. Tapi sekarang terbalik, industri memberi masukan, kemudian kita kembangkan di universitas. Setelah adik-adik itu siap, baru dia kembali lagi ke industri,” katanya.
Ia mengungkapkan, masih terdapat kesenjangan kompetensi antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap rendahnya daya serap tenaga kerja, terutama pada sektor industri berskala nasional maupun internasional.
“Daya serap di industri-industri yang skalanya internasional dan sebagainya, itu rendah. Itu salah satunya karena ada gap, kebutuhan industri tersebut tidak bisa terpenuhi oleh kompetensi mahasiswa lulusan universitas,” ujarnya.
Selain fokus pada kesiapan lulusan, Unram juga memberikan perhatian terhadap pemanfaatan AI dalam lingkungan akademik. Kampus tidak melarang penggunaan AI oleh mahasiswa maupun dosen, namun menekankan pentingnya etika dalam pemanfaatannya.
Menurut Sitti, AI memiliki manfaat besar untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas. Namun, kampus tetap menerapkan batasan melalui pedoman akademik guna mencegah penyalahgunaan teknologi, termasuk praktik plagiarisme dalam karya ilmiah.
Karena itu, pelatihan AI Ready ASEAN menjadi sarana penting untuk meningkatkan literasi AI sekaligus memperkuat pemahaman etika penggunaan teknologi bagi sivitas akademika.
Program tersebut juga menjadi penutup rangkaian pelatihan yang sebelumnya berlangsung di Universitas Cordova (UNDOVA) dan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). (*)




