Lombok TengahPariwisata

Wisatawan Keluhkan Pungli dan Masalah Keamanan di Kawasan Wisata Lombok Tengah

Mataram (NTBSatu) – Seorang wisatawan bernama Rika Yeo mengeluhkan tata kelola pariwisata di kawasan selatan Lombok Tengah akibat maraknya praktik Pungutan Liar (pungli), penumpukan sampah, hingga persoalan keamanan pengunjung.

Rika menceritakan pengalaman tidak menyenangkan saat mengunjungi objek wisata perbukitan di kawasan Kuta, Lombok Tengah. Saat memarkir kendaraan roda dua, pengelola meminta biaya Rp10.000, tetapi memakai karcis yang justru retribusi masuk Festival Bau Nyale.

Tak berhenti di situ, saat melintasi jembatan untuk mendaki bukit, oknum lain kembali meminta uang Rp10.000 yang kemudian berkurang menjadi Rp5.000 setelah mendapat protes. Padahal dalam tulisan karcis resmi tersebut bernominal Rp 2.500.

IKLAN

​”Bukan soal harganya, tapi soal kejujurannya. Ini namanya pemerasan karena tiketnya tidak sesuai. Sama sekali beda dari yang mereka minta,” ujarnya kepada NTBSatu pada Minggu, 16 Agustus 2026.

Maraknya Pungli dan Tiket Tak Sesuai

Wisatawan tersebut menekankan persoalan utama terletak pada transparansi dan kejujuran para pengelola di lapangan. Menurutnya, jika pengelola menarik biaya retribusi secara resmi dan masuk akal, ia tidak akan mempermasalahkan meski haru membayar hingga Rp 50.000.

Namun, praktik penarikan uang yang tidak jelas acuannya dan disertai ketidaksesuaian lembar karcis membuat kunjungan liburan berubah menjadi momen yang menyebalkan.

IKLAN

​”Kelola wisata dengan baik, buat turis nyaman, ke depannya kan bakal lebih banyak turis lagi,” ujarnya.

Rika sangat menyayangkan peristiwa ini. Baginya potensi pariwisata daerah yang luar biasa ini akan terkubur jika terus tergerus oleh penarikan uang ilegal yang tidak bertanggung jawab.

Masalah Sampah dan Kerawanan Keamanan

Selain kejelasan retribusi, keluhan utama lainnya tertuju pada tumpukan sampah plastik yang berserakan di sepanjang lereng bukit kawasan pesisir tersebut. Ia menilai pengelola dan oknum penarik retribusi seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan kawasan wisata.

Di sisi lain, kekhawatiran bertambah akibat persoalan keamanan. Ia mengaku mengalami pelecehan verbal (catcalling) sebanyak dua kali.

Selain itu, wisatawan tersebut menerima banyak peringatan dari warga sekitar agar tidak bepergian sendirian pada malam hari karena maraknya kasus pencurian barang.

​”Lombok ini parah soal sampah dan keamanannya. Saya kena catcalling dua kali, dan banyak yang peringati supaya jangan keluar malam sendirian. Barang juga harus dijaga karena banyak maling. Liburan tapi stres,” ungkapnya.

Meski begitu, wanita tersebut tidak memungkiri keindahan alam dan ramahnya masyarakat lokal. “Tapi alamnya indah banget. Masyarakat aslinya juga ramah-ramah,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah daerah dan dinas terkait untuk segera turun tangan membenahi sistem tata kelola, menertibkan oknum pungli, serta menjamin keamanan dan kebersihan lingkungan destinasi. Langkah ini dinilai sangat mendesak agar wisatawan dapat menikmati keindahan kawasan wisata tanpa merasa cemas atau tertekan.

​”Saya berharap pemerintah turun tangan, ikut campur dalam menertibkan yang kayak gini,” pungkasnya.

Pihak NTBSatu sudah berusaha menghubungi Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah melalui WhatsApp. Namun hingga berita ini terbit, pihak terkait belum memberikan tanggapan apa pun. (*)

Artikel Terkait