Lombok TimurPendidikan

Saat Sekolah Kebanjiran, Prestasi Siswa SDN 2 Seruni Mumbul Tak Ikut “Tenggelam”

Lombok Timur (NTBSatu) – Hujan bukan sekadar membawa air bagi siswa SDN 2 Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. Bagi mereka, hujan juga berarti ruang kelas yang mulai tergenang dan perjalanan ke sekolah yang lebih panjang.

Ketika air masuk ke ruang kelas, siswa harus meninggalkan bangku mereka. Guru mengarahkan mereka ke teras kelas yang kondisinya lebih layak untuk melanjutkan pembelajaran.

Kondisi itu sudah menjadi bagian dari keseharian siswa di sekolah tersebut.

IKLAN

Persoalan tidak berhenti di dalam lingkungan sekolah. Saat musim hujan tiba, akses jalan menuju SDN 2 Seruni Mumbul juga kerap tergenang.

Siswa yang biasanya menempuh jalur lebih dekat harus mencari jalan alternatif agar tetap bisa sampai ke sekolah. Mereka harus berputar lebih jauh sebelum akhirnya tiba di ruang kelas.

Di tengah kondisi tersebut, sekolah justru mampu melahirkan siswa berprestasi. Dua di antaranya adalah Nia Juniarti dan Agum Saputra.

Keduanya membawa nama SDN 2 Seruni Mumbul dalam ajang perlombaan dan mengharumkan nama Kecamatan Pringgabaya serta Lombok Timur.

Nia mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika. Sejak kelas III, ia sudah menunjukkan ketertarikan pada pelajaran tersebut. Nilai matematikanya juga kerap berada di angka 90-an.

Guru kemudian memilih Nia untuk mengikuti OSN. “Saya langsung dipilih,” kata Nia kepada NTBSatu, kemarin.

Ia mengaku, sempat merasa deg-degan saat mengikuti perlombaan. Apalagi, ia harus menghadapi peserta dari sekolah lain dengan kemampuan yang tidak kalah kuat. Namun, Nia tetap berusaha fokus.

Fasilitas Terbatas, Semangat Siswa Membara

Kondisi ruang kelas yang panas dan atap yang kurang layak tidak membuatnya berhenti belajar. Ia memilih memperbanyak latihan soal dan terus mengasah kemampuan berhitung.

“Fokus-fokusin aja,” ujarnya.

Dalam OSN, Nia harus menyelesaikan 20 soal dalam waktu sekitar satu jam. Ia mengakui soal yang diberikan cukup sulit. Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya semakin percaya diri.

Ada satu harapan yang ia bawa ketika mengikuti perlombaan. Nia ingin prestasinya ikut membuka perhatian terhadap sekolah tempatnya menuntut ilmu.

Ia berharap sekolahnya mendapat perhatian dan perbaikan. “Saya berharap sekolah saya bisa diperbaiki,” katanya.

Cerita perjuangan juga datang dari Agum Saputra. Siswa yang gemar berlari itu mengikuti cabang atletik setelah guru melihat kemampuannya. Guru langsung mengajaknya mengikuti perlombaan dan Agum menerima kesempatan tersebut.

Bagi Agum, berlari bukan sesuatu yang asing. Ia memang menyukai aktivitas tersebut. Bahkan, perjalanan menuju sekolah yang cukup jauh tidak selalu membuatnya mengeluh. Ia terbiasa berjalan kaki menuju sekolah.

Ketika hujan datang dan jalan utama tergenang, perjalanan itu menjadi lebih panjang. Agum bersama siswa lainnya harus mencari jalur lain agar tetap bisa mengikuti pelajaran.

Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi semangatnya. Saat mengikuti perlombaan, Agum juga tidak terlalu memikirkan soal kemenangan.

“Pokoknya saya mau berlomba,” ujarnya.

Ia menikmati setiap kesempatan bertanding. Mental itu membuat Agum tetap tenang ketika menghadapi peserta dari sekolah lain.

Kini, ia bahkan ingin mendapat kesempatan mengikuti perlombaan hingga tingkat provinsi. Ia siap menghadapi lawan dari Mataram maupun daerah lainnya.

Selain atletik, Agum memiliki satu mimpi besar. Ia ingin menjadi pemain sepak bola. Cristiano Ronaldo menjadi salah satu pemain yang ia kagumi.

Mimpi yang Tumbuh dari Ruang Kelas Sederhana

Kisah Nia dan Agum menjadi gambaran bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu menghalangi anak-anak untuk berprestasi.

SDN 2 Seruni Mumbul memang masih menghadapi persoalan infrastruktur. Bangunan yang rusak, plafon yang bocor, ruang kelas yang tergenang saat hujan, hingga akses jalan yang ikut banjir menjadi tantangan bagi siswa dan guru.

Namun, dari sekolah itu pula muncul dua anak yang berani bersaing membawa nama daerah.

Nia tumbuh dengan kecintaan terhadap matematika. Ia ingin menjadi guru karena senang mengajar dan ingin memberikan manfaat bagi orang lain.

Di balik cita-cita tersebut, ada keinginan sederhana untuk membanggakan kedua orang tuanya yang bekerja sebagai petani.

“Saya mau banggain orang tua. Mau naikin haji orang tua,” kata Nia.

Agum pun menyimpan mimpi sendiri. Ia ingin terus berlari dan suatu hari menjadi pemain sepak bola.

Keduanya mungkin belajar di ruang kelas yang belum ideal. Mereka mungkin harus menyingkir ketika air menggenangi lantai. Mereka juga harus menempuh jalan lebih jauh ketika banjir menutup akses menuju sekolah.

Namun, semua itu tidak membuat langkah mereka berhenti. Dari ruang kelas yang membutuhkan perhatian, Nia dan Agum justru menunjukkan bahwa sekolah boleh memiliki keterbatasan, tetapi mimpi siswanya tidak boleh ikut terbatas.

Kini, prestasi keduanya menjadi pengingat bahwa di balik kondisi SDN 2 Seruni Mumbul yang membutuhkan perhatian, ada potensi anak-anak yang layak mendapat ruang untuk tumbuh dan berkembang. (*)

Artikel Terkait