628.500 Warga NTB Masih Hidup di Bawah Garis Kemiskinan
Mataram (NTBSatu) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat sebanyak 628,50 ribu penduduk masih berstatus miskin hingga periode Maret 2026. Angka tersebut setara dengan 11,17 persen dari total populasi daerah.
Kepala BPS NTB, Wahyudin menjelaskan, indikator kemiskinan daerah mengukur kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar pangan dan nonpangan. Penduduk berstatus miskin merupakan warga yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
“Jumlah penduduk miskin di NTB per Maret 2026 berkurang sekitar 8,68 ribu orang jika kita bandingkan dengan periode September 2025,” ujarnya, mengutip akun YouTube BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Pola Sebaran Wilayah Perkotaan dan Desa
Secara demografis, konsentrasi penduduk miskin terbagi di kawasan perdesaan dan perkotaan. Meskipun wilayah perdesaan mencatatkan penurunan jumlah jiwa miskin, kawasan urban menunjukkan tantangan akibat dinamika lapangan kerja dan urbanisasi.
”Masyarakat miskin di perdesaan sangat bergantung pada stabilitas iklim dan harga komoditas hasil pertanian,” tutur Wahyudin.
Kelompok populasi miskin di NTB ini tercatat paling banyak mendiami wilayah Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Tengah. Hal ini seiring tingginya kepadatan penduduk di kedua kawasan tersebut.
Komoditas Pangan Jadi Penentu Garis Kemiskinan
Wahyudin menegaskan, komoditas makanan memegang peranan paling dominan dalam menentukan batas Garis Kemiskinan masyarakat.
Selanjutnya, kelompok masyarakat miskin ini mengalokasikan porsi besar dari seluruh pengeluarannya untuk konsumsi makanan harian.
”Beras menjadi komoditas penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan, disusul oleh rokok kretek filter dan telur ayam ras,” tegas Wahyudin.
Oleh karena itu, BPS NTB menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasokan komoditas pangan pokok untuk melindungi daya beli 628 ribu penduduk miskin tersebut. (*)




