Ekonomi BisnisLombok Tengah

Tanpa Pasar Tradisional, Desa Darmaji Andalkan “Hari Pasar Online” untuk Pasarkan Produk Lokal

Lombok Tengah (NTBSatu) – Keterbatasan pasar tradisional tidak menyurutkan upaya Desa Darmaji, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.

Pemerintah Desa Darmaji menghadirkan inovasi “Hari Pasar Online” sebagai wadah pemasaran produk lokal. Program tersebut memanfaatkan teknologi digital untuk membantu pelaku UMKM menjangkau konsumen lebih luas.

Kepala Desa Darmaji, Suhaidi mengatakan, gagasan itu muncul karena wilayahnya belum memiliki pasar tradisional sebagai pusat aktivitas perdagangan masyarakat.

IKLAN

“Di Darmaji tidak ada pasar tradisional. Tidak ada pasar. Tapi kami punya Hari Pasar Online,” ujar Suhaidi saat menjadi narasumber dalam podcast NTBSatu, Kamis 30 Juli 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut justru mendorong pemerintah desa mencari pola baru agar produk warga tetap memiliki jalur pemasaran.

Libatkan Anak Muda

Untuk menjalankan program tersebut, Pemerintah Desa Darmaji menggandeng anak-anak muda setempat. Mereka mendapat pembinaan khusus agar mampu mengelola pemasaran digital, mulai dari strategi promosi hingga pemanfaatan platform daring.

Suhaidi mengaku, pihaknya telah menggelar mentoring digital marketing selama dua bulan. Pelatihan itu menghadirkan mentor yang memahami dunia pemasaran digital.

“Saya dua bulan mengadakan mentoring digital marketing. Ada beberapa anak-anak muda yang saya daftarkan untuk ikut kegiatan itu, kemudian ada mentornya dari teman-teman yang sudah ahli di situ,” tuturnya.

Melalui pembinaan tersebut, para pemuda memiliki peran sebagai penghubung antara pengrajin dengan pasar digital. Mereka membantu memasarkan berbagai produk unggulan desa, seperti anyaman ketak, anyaman pandan, hingga kopi lokal.

Kolaborasi Generasi Tua dan Muda

Setiap Sabtu, komunitas pemuda digital Desa Darmaji aktif mempromosikan sekaligus menjual produk warga melalui media sosial dan platform perdagangan elektronik.

Di sisi lain, para pengrajin senior tetap fokus menjaga kualitas produk yang mereka hasilkan. Kolaborasi dua generasi ini menciptakan pola ekonomi baru yang saling mendukung.

Suhaidi menjelaskan, selama ini sejumlah pelaku UMKM menghadapi kendala bukan hanya dalam proses produksi, tetapi juga dalam mencari pasar.

“Selama ini UMKM kita ngeluh, mereka disuruh berproduksi tapi tidak bisa menjualnya. Ada UMKM kita membuat produk, ada komunitas ini yang nanti bertugas untuk menjual,” katanya.

Menurut dia, program tersebut membantu para pengrajin tetap berkarya tanpa harus memikirkan persoalan pemasaran secara mandiri.

Dengan konsep pasar berbasis digital, Desa Darmaji membuktikan keterbatasan fasilitas fisik tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mengembangkan ekonomi lokal. (*)

Artikel Terkait