Unram Jadi Tuan Rumah Workshop Konsorsium Trilateral Indonesia Timur, Dorong Hilirisasi Riset
Mataram (NTBSatu) – Universitas Mataram (Unram) menjadi tuan rumah Workshop Konsorsium Trilateral Indonesia Timur (KTIT) di Hotel Aston Inn Mataram pada Jumat, 24 April 2026.
Kegiatan ini mengusung tema “Sinergi Riset dan Pengabdian untuk Konektivitas Pembangunan Kawasan Indonesia Timur”. Serta melibatkan sejumlah perguruan tinggi dari Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku.
Sejumlah perguruan tinggi yang tergabung dalam konsorsium ini antara lain Universitas Udayana, Universitas Nusa Cendana, Universitas Pattimura, Universitas Katolik Widya Mandiri, Universitas Khairun, Universitas Timor, serta Universitas Pendidikan Ganesha.
Rektor Unram, Prof. Sukardi secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan penguatan ekosistem daerah kepulauan menjadi fondasi utama kolaborasi.
Ia menyebut tiga isu prioritas, yaitu pengentasan kemiskinan ekstrem dan stunting, pengembangan pariwisata kepulauan, serta peningkatan ketahanan pangan.
“Perguruan tinggi harus hadir menyelesaikan persoalan masyarakat, dengan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang terukur,” ujarnya.
Prof. Sukardi juga menyoroti potensi besar kawasan Timur. Mulai dari perikanan berkelanjutan, energi terbarukan berbasis solar cell, hingga layanan pendidikan hybrid di daerah kepulauan.
Ia menekankan riset tidak boleh berhenti di jurnal, tetapi harus memberi dampak nyata bagi masyarakat pesisir dan kepulauan.
Prof. Sukardi menambahkan kementerian menggariskan tiga dampak utama, yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ia juga menegaskan perguruan tinggi perlu berkolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia industri, dan lembaga masyarakat.
“Muaranya ke masyarakat. Kolaborasi semua pihak di kawasan Indonesia Timur menjadi kunci agar riset dan pengabdian benar-benar memberi manfaat,” katanya.
Semangat Hilirisasi Riset Terapan
Senada dengan itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VIII, I Gusti Lanang Bagus Eratodi menyampaikan, workshop ini menjadi bagian dari semangat hilirisasi riset terapan. Ia menyebut perguruan tinggi berperan sebagai pusat riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat yang dibutuhkan publik.
Ia menjelaskan kegiatan ini memastikan arah riset konsorsium sekaligus mempertemukan perguruan tinggi dengan penyandang dana, termasuk Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup.
Menurutnya, riset yang siap diterapkan di masyarakat berpeluang memperoleh pendanaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Ia juga menjelaskan, kegiatan ini memetakan arah riset konsorsium Indonesia Timur ke depan.
“Riset yang siap diaplikasikan ke masyarakat berpeluang memperoleh pendanaan, tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri,” ujarnya kepada NTBSatu.
Ia menambahkan forum ini juga menyusun roadmap bersama. Setiap kampus memaparkan potensi dan kebutuhan, lalu membangun kolaborasi lintas wilayah.
Sementara itu, Kepala LPPM Unram, Andi Chairil Ichsan menyebut, peserta berasal dari lima provinsi, yakni Bali, NTB, NTT, Maluku, dan Maluku Utara.
Ia menjelaskan, konsorsium ini bertujuan mengoptimalkan sumber daya perguruan tinggi untuk mencapai target pembangunan nasional di kawasan timur Indonesia. Isu yang dibahas meliputi kemiskinan ekstrem, stunting, pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan kemaritiman.
Ia menambahkan konsorsium akan menjalankan riset bersama, pengabdian masyarakat, hingga KKN tematik lintas wilayah atau sister research. “Kami tidak lagi bicara agenda masing-masing universitas, tetapi bergerak bersama menuju target yang sama,” ujarnya kepada NTBSatu.
Ke depan, lanjutnya, konsorsium akan menyusun proposal bersama yang melibatkan dosen lintas kampus. Sumber pendanaan berasal dari internal perguruan tinggi maupun eksternal, termasuk kementerian dan lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Ia menambahkan workshop ini menjadi kelanjutan rangkaian sebelumnya, mulai dari penyusunan konsep konsorsium, penandatanganan MoU, hingga audiensi dengan pemerintah pusat.
“Konsorsium ini menargetkan kolaborasi lintas sektor agar riset dan pengabdian memberi dampak nyata bagi masyarakat kawasan kepulauan,” tutupnya. (*)



