Lombok BaratPendidikan

Sinyal Internet Jadi Kendala Utama Pelaksanaan TKA di Sejumlah SD Lombok Barat

Lombok Barat (NTBSatu) – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 tingkat Sekolah Dasar (SD) di Lombok Barat, melibatkan 372 sekolah dengan total 10.749 siswa. Ujian berbasis komputer ini berlangsung selama 10 hari, mulai 20 hingga 30 April 2026 dan terbagi dalam tiga gelombang.

Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat, Heny Murdianti menyampaikan, secara umum pelaksanaan TKA berjalan lancar tanpa temuan pelanggaran. Ia menilai, penerapan sistem pengawasan cukup ketat karena melibatkan pengawas silang antar sekolah.

“Alhamdulillah dari laporan teman-teman guru semuanya berjalan lancar, tidak ada temuan. Pengawas di masing-masing ruangan juga berasal dari sekolah lain, jadi sistemnya bagus,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 22 April 2026.

Ia menjelaskan, sebelum pelaksanaan TKA, pihak dinas telah melakukan sosialisasi ke 10 kecamatan selama lima hari untuk memastikan kesiapan teknis dan pemahaman aturan di tingkat sekolah. Bahkan, memperketat aturan monitoring dan evaluasi (monev).

“Kami sudah sampaikan saat monev tidak boleh masuk ke dalam kelas atau merekam. Kalau melihat situasi, cukup dari luar saja,” tegasnya.

‎Namun di balik kelancaran tersebut, pelaksanaan TKA tidak lepas dari kendala, terutama terkait jaringan internet. Sejumlah sekolah di wilayah terpencil mengalami gangguan sinyal dan keterbatasan kuota, yang menjadi tantangan utama dalam ujian berbasis komputer ini.

“Ada hambatan kuota dan sinyal, terutama di daerah yang terpencil. Tetapi, alhamdulillah dari laporan kepala sekolah bisa diatasi,” jelas Heny.

Berbagai upaya dilakukan untuk memastikan ujian tetap berjalan. Para guru bahkan harus berinisiatif menyediakan kuota pribadi hingga berbagi jaringan melalui tethering.

“Solusinya, guru-guru standby dengan kuota yang dibeli. Bahkan ada yang sampai standby di konter. Jadi tidak menggunakan WiFi, tetapi tethering dari guru,” ungkapnya.

Keterbatasan Perangkat

Selain masalah jaringan, keterbatasan perangkat seperti komputer dan laptop juga menjadi tantangan di beberapa sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, pelaksanaan TKA berlangsung dengan sistem bergiliran.

“Kalau ada sekolah yang belum punya fasilitas cukup, kita pakai jadwal shift. Jadi satu sesi selesai, dilanjutkan oleh sekolah lain,” tambahnya.

Heny menegaskan, TKA memiliki peran penting dalam mengukur kemampuan siswa secara objektif. Karena itu, ia mengimbau seluruh peserta untuk mengerjakan ujian dengan jujur.

“Harapannya siswa bisa mengerjakan dengan penuh kejujuran, karena TKA ini untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mereka,” tutupnya.

Pelaksanaan TKA tahun ini menjadi gambaran nyata tantangan digitalisasi pendidikan di daerah. Meski terkendala sinyal, kolaborasi antara guru, sekolah, dan dinas memastikan ujian tetap berjalan hingga selesai. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button