BPBD KSB Perkuat Mitigasi Mandiri dan Sinergitas Lintas Sektor Hadapi Musim Kemarau
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi transisi cuaca menuju musim kemarau basah.
Kepala BPBD KSB, Abdullah menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat dalam meminimalisir risiko bencana.
Ia menyampaikan, kondisi cuaca saat ini masih berada pada fase kemarau basah. Di mana curah hujan masih sering terjadi, meski telah memasuki periode panas.
“Kita harus pandai-pandai menjaga lingkungan dan mengatur air. Saya mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan mitigasi mandiri dari lingkungan terkecil,” ujarnya kepada NTBSatu, Jumat, 17 April 2026.
Dalam upaya memperkuat mentalitas siaga bencana, BPBD akan menggelar peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) pada 26 Mei 2206 mendatang di kawasan KTC.
“Tema tahun ini adalah ‘Siap untuk Selamat’. Kami akan mengadakan simulasi gempa bumi dan edukasi kebencanaan agar masyarakat lebih tangguh,” tambahnya.
Terkait status kebencanaan, Abdullah menjelaskan, hingga saat ini pemerintah daerah belum menerbitkan SK Siaga Darurat Kekeringan secara resmi. “Kami sedang proses dan melihat kondisi dulu, karena cuaca saat ini tidak menentu,” jelasnya.
Abdullah menegaskan, jika status siaga telah ditetapkan, seluruh perangkat daerah termasuk Satpol PP akan dikerahkan untuk menjaga ketertiban distribusi bantuan.
Sinergi ini diperlukan untuk memastikan penanganan dampak kekeringan, seperti kekurangan air bersih dan kebakaran hutan, dapat berjalan dengan kondusif dan aman.
Prosedur pelaporan bencana juga telah lebih mudah. Di mana pihak desa diharapkan proaktif melaporkan kondisi wilayahnya, yang terdampak kepada Bupati melalui BPBD.
“Pihak desa harus bersurat jika terjadi kekurangan air bersih. Kami juga akan turun langsung melakukan asesmen lapangan untuk memverifikasi jumlah warga yang terdampak,” tegas Abdullah.
Antisipasi Krisis Air Bersih
Menanggapi potensi krisis air bersih, Abdullah menyebutkan, pemerintah telah menyiapkan program bantuan tidak terduga yang melibatkan instansi lintas sektoral.
“Tahun lalu kita melibatkan TNI-Polri, PDAM, hingga Bank NTB untuk menyuplai air bersih. Semua lini bergerak bersama untuk mengatasi dampak kekeringan ini,” ujarnya.
Selain bantuan suplai air, pemerintah juga terus menggenjot pembangunan infrastruktur permanen seperti sumur bor dan jaringan SPAM di berbagai titik.
“Di titik-titik rawan kekeringan, kita bangun sumur bor untuk air bersih. Langkah ini sangat efektif untuk memperkecil dampak kekeringan secara jangka panjang,” ungkapnya mengenai strategi teknis di lapangan.
Abdullah juga memaparkan, sektor pertanian tetap menjadi perhatian serius melalui koordinasi intensif dengan dinas terkait untuk mendata potensi gagal panen.
Hal ini agar langkah-langkah perlindungan ekonomi bagi para petani dapat segera pemerintah upayakan, melalui program-program mitigasi yang sudah terencana sejak awal.
Menutup keterangannya, Abdullah bersyukur, sejauh ini Kabupaten Sumbawa Barat masih dalam kondisi yang relatif aman dari bencana besar yang memakan korban jiwa.
“Alhamdulillah, meski ada cuaca ekstrem seperti angin puting beliung atau banjir lewat, semuanya bisa segera tertangani dan infrastruktur yang rusak langsung direhabilitasi,” tutupnya. (Andini)



