Sumbawa Barat

Beralih ke Gas 5 Kilogram, Solusi Kadis Koperindag KSB Atasi Kelangkaan Elpiji 3 Kilogram

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Kadis Koperindag) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Suryaman mendorong masyarakat mampu dan pelaku usaha untuk mulai beralih ke elpiji non-subsidi varian 5 kilogram. Langkah ini sebagai solusi strategis untuk memastikan ketersediaan gas elpiji 3 kilogram tetap terjaga bagi masyarakat KSB.

Suryaman menegaskan, secara teknis ketersediaan stok gas di Kabupaten Sumbawa Barat berada dalam kondisi yang mencukupi kebutuhan daerah. Namun, tantangan utama saat ini adalah pola distribusi dan konsumsi yang sering kali tidak sesuai dengan peruntukan awalnya.

Pemerintah daerah melalui Satgas terus memantau penggunaan gas subsidi 3 kilogram, agar tidak terjadi penyerapan oleh pihak yang secara ekonomi masuk kategori mapan. Baginya, penggunaan gas 5 kilogram merupakan alternatif yang jauh lebih adil dan tidak melanggar hak-hak masyarakat miskin.

IKLAN

“Gas 5 kilogram sudah mulai masuk sekarang. Daripada membeli di kios gas 3 kilogram seharga lima puluh ribu, harga 5 kilogram ini lebih kompetitif dengan margin tidak terlalu jauh Rp100 ribu,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 13 Mei 2026.

Tawarkan Kemudahan bagi Konsumen

Varian gas non-subsidi ini menawarkan kemudahan bagi konsumen, karena tidak terikat pada aturan administrasi kependudukan atau syarat-syarat tertentu yang ketat. Fleksibilitas ini diharapkan mampu menarik minat para pelaku UMKM dan kalangan profesional, untuk segera bermigrasi dari gas subsidi.

“Gas 5 kilogram ini bebas, tidak ada aturan karena non-subsidi. Mau miskin atau kaya boleh menggunakan ini,” tambahnya.

IKLAN

Guna menjamin ketersediaan produk non-subsidi di lapangan, Dinas Koperindag KSB telah berkoordinasi dengan agen-agen penyalur untuk meningkatkan suplai tabung 5 kilogram. Penambahan kuota di tingkat agen diharapkan mampu menyeimbangkan tingginya permintaan energi di sektor komersial.

Kehadiran agen baru di Sumbawa juga dimanfaatkan untuk memperlancar rantai pasok ke wilayah KSB, agar tidak terjadi kekosongan stok di tingkat pengecer. Suryaman optimis jika sektor UMKM beralih ke gas 5 kilogram, maka beban distribusi gas subsidi akan jauh berkurang secara otomatis.

“Kami minta agennya lebih banyak membawa gas 5 kilogram ke sini. Di UMKM juga banyak pakai gas, itu juga yang membuat (gas subsidi) kurang,” ungkapnya.

Klarifikasi Isu Penyelewengan Distribusi Gas

Di tengah upaya penertiban tersebut, Suryaman juga mengklarifikasi isu miring yang sempat beredar di media sosial mengenai dugaan penyelewengan distribusi gas. Ia memastikan, video yang sempat viral di grup-grup WhatsApp warga tersebut bukanlah kejadian baru yang terjadi di masa kepemimpinannya saat ini.

Tim di lapangan telah melakukan pengecekan visual dengan membandingkan lokasi dalam video tersebut dengan kondisi riil di sekitar Apotek Melawi. Berdasarkan identifikasi fisik bangunan, rekaman tersebut terbukti diambil jauh sebelum adanya regulasi distribusi gas yang berlaku sekarang.

“Ternyata itu kejadian lima bulan lalu sebelum ada aturan resmi. Saat saya bandingkan lokasinya, di video itu bahkan belum ada apotek di pojok tersebut,” tegas Suryaman.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan energi ini demi kepentingan masyarakat luas. Suryaman pun mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk saling mengawasi. Serta, tidak ragu melaporkan jika menemukan ketidakwajaran dalam distribusi gas elpiji di lingkungan masing-masing. (Andini)

Artikel Terkait

Back to top button