RUPS PT GNE Menunggu Audit Keuangan Selesai
Mataram (NTBSatu) – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal telah menetapkan tiga nama sebagai direksi PT Gerbang NTB Emas (GNE) hasil seleksi terbuka beberapa waktu lalu.
Di antaranya: Direktur Utama, Yuyud Indrayudi; Direktur Keuangan, Sulman; dan Direktur Operasi, Suhaimi.
Langkah selanjutnya pengesahan secara resmi melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Kepala Biro Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Izzudin Mahili menyampaikan, pelaksanaan RUPS PT GNE setelah audit keuangan rampung.
“Selesai audit langsung RUPS, tapi tunggu arahan. Kan syaratnya itu,” kata Izzudin kepada NTBSatu, Minggu, 12 April 2026.
Audit ini akan dilaksanakan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP). Apakah proses tersebut juga mencakup pemeriksaan terhadap utang perusahaan, Izzudin tidak memberikan penjelasan secara rinci. Meski demikian, ia menegaskan bahwa audit yang dilakukan merupakan audit laporan keuangan..
“Audit laporan keuangan regular. (Soal utang juga) tunggu saja,” ujarnya.
Utang PT GNE
Sebelumnya, Ketua Komisi III DPRD NTB, Sambirang Ahmadi mencatat, PT GNE memiliki beban utang yang masih tinggi. Ia menyampaikan, hingga 2025, GNE tercatat memiliki sisa utang sebesar Rp21,99 miliar, dengan kewajiban angsuran bulanan sekitar Rp328,7 juta atau hampir Rp3,9 miliar per tahun.
“Nilai tersebut jauh melampaui laba bersih yang hanya Rp278 juta,” ucapnya.
Selain itu, GNE masih memiliki piutang usaha sebesar Rp8,65 miliar dengan periode penagihan mencapai sekitar 218 hari. Beban usaha juga tercatat sebesar Rp5,62 miliar atau sekitar 39 persen dari pendapatan.
Kendati demikian, ia menilai PT GNE pada tahun 2025 menunjukkan perbaikan dengan berhasil keluar dari jerat kerugian. Meski belum sepenuhnya sehat karena masih dibayangi penurunan pendapatan dan beban utang yang besar.
Sepanjang tahun 2025, PT GNE berhasil mencatatkan laba sebesar Rp278,9 juta pada 2025, setelah sebelumnya merugi Rp3,24 miliar pada 2024.
“Perusahaan juga mampu memberikan kontribusi dividen sebesar Rp153,4 juta kepada daerah,” kata Sambirang.
Selain itu, tingkat kesehatan perusahaan tercatat mencapai skor 60,8 atau masuk kategori “Sehat-A”. GNE juga telah menuntaskan tunggakan pajak sebesar Rp5,79 miliar, dengan dukungan melalui penyertaan modal.
Meski demikian, Sambirang memberikan catatan kritis terhadap kualitas pertumbuhan yang ia nilai belum solid. Pendapatan GNE justru mengalami penurunan signifikan dari Rp18,48 miliar pada 2024 menjadi Rp14,47 miliar pada 2025, atau turun sekitar 21,7 persen.
Ia menilai, struktur pendapatan juga belum ideal karena masih didominasi sektor beton yang menyumbang sekitar Rp12,24 miliar atau 84 persen dari total pendapatan. Di sisi lain, margin laba perusahaan masih sangat tipis, hanya sekitar 1,9 persen.
“Ini menunjukkan pertumbuhan belum berkualitas dan masih rentan,” ujarnya. (*)



