Pendidikan

SMAN 1 Lingsar Hadapi Tantangan Infrastruktur dan Minimnya Fasilitas Digital

Mataram (NTBSatu)SMAN 1 Lingsar terus mengembangkan program kemandirian belajar sebagai strategi utama peningkatan prestasi siswa.

Program ini mendorong peserta didik untuk lebih aktif, tidak bergantung pada guru, serta membentuk kelompok belajar mandiri guna mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi.

Kepala SMAN 1 Lingsar, Efendi Agung, menyebut pendekatan tersebut telah memberikan dampak positif terhadap capaian akademik sekolah.

“Anak-anak harus proaktif mencari guru. Kalau mereka tertarik pada suatu mata pelajaran, mereka harus aktif bertanya dan menggali sendiri,” ujarnya kepada NTBSatu, Minggu, 12 April 2026.

Ia mengungkapkan, melalui pola tersebut, lebih dari 23 siswa berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) pada tahun ini.

Selain program akademik, sekolah juga menjalankan pembekalan kewirausahaan bagi siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Pihak sekolah melatih siswa mulai dari proses produksi hingga pengemasan produk seperti makanan dan olahan lainnya agar memiliki keterampilan mandiri setelah lulus.

“Untuk yang tidak kuliah, kita bekali dengan skill kewirausahaan, dari produksi sampai packaging,” jelasnya.

Di sisi lain, sekolah masih menghadapi keterbatasan pada kegiatan ekstrakurikuler. Tercatat sekitar 30 kegiatan ekskul berjalan, namun sebagian mengalami hambatan akibat keterbatasan pendanaan dari kebijakan moratorium BPP.

Efendi menjelaskan, kebijakan moratorium BPP yang serta larangan penggunaan dana BOS untuk kegiatan tertentu berdampak langsung pada pelaksanaan kegiatan siswa, termasuk lomba-lomba di luar sekolah.

“Biasanya kita bisa kirim lima orang, sekarang hanya satu atau dua karena keterbatasan biaya,” katanya.

Selain itu, insentif pembina ekstrakurikuler juga mengalami penundaan pembayaran karena tidak adanya sumber pendanaan dari iuran.

Kerusakan pada Bangunan Sekolah

Dari sisi sarana prasarana, SMAN 1 Lingsar masih menghadapi persoalan serius. Ia mengatakan, beberapa bangunan sekolah telah berusia tua dengan kondisi kerusakan seperti plafon menurun, tembok miring, dan atap bocor.

“Kondisi gedung sudah tua sekali sejak awal berdiri,” ujar Efendi.

Masalah lain yang menjadi sorotan adalah sistem kelistrikan sekolah yang masih menggunakan instalasi lama dari era 1980-1990-an. Kondisi tersebut kerap menyebabkan listrik “jeglek” saat beban penggunaan meningkat, terutama saat pelaksanaan ujian berbasis komputer.

“Kalau beban naik, listrik sering jeglek. Ini sangat mengganggu kegiatan belajar,” jelasnya.

Di sektor digitalisasi, sekolah hanya memiliki satu unit smart TV (PID) untuk mendukung pembelajaran bagi lebih dari 1.028 siswa. Kondisi ini membuat penerapan pembelajaran berbasis teknologi belum dapat berjalan maksimal di seluruh kelas.

Meski demikian, pihak sekolah tetap berupaya menjaga capaian akademik. SMAN 1 Lingsar saat ini menempati peringkat ke-empat prestasi di wilayah Lombok Barat, dengan sejumlah prestasi di bidang OSN dan lomba-lomba lainnya.

“Kita berada diposisi ke-empat terbaik di Lombok Barat saat ini,” ungkapnya.

Efendi berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, terutama dalam hal perbaikan infrastruktur, penambahan fasilitas digital, serta pendampingan peningkatan mutu pembelajaran.

“Kalau ada evaluasi rapor pendidikan yang merah, jangan hanya diberi tahu saja lalu tidak ada tindak lanjut, kami perlu didampingi langsung,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pelatihan guru secara tatap muka serta penambahan tenaga pendidik, mengingat adanya guru yang akan pensiun dalam waktu dekat.

“Dengan berbagai kondisi tersebut, kami berharap adanya dialog lebih intensif dengan pemerintah agar pengembangan pendidikan di sekolah dapat berjalan lebih optimal,” harapnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button