Pemerintahan

Gubernur Iqbal Desak MUI NTB Aktif Tangani Isu Pelecehan Seksual di Pesantren

Mataram (NTBSatu) – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyoroti kasus pelecehan seksual yang kian mengkhawatirkan. Ia meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB untuk lebih peka dan aktif merespons persoalan tersebut. Khususnya di lingkungan pendidikan Islam.
β€Ž
β€Žβ€œBanyak terjadi pelecehan seksual justru di institusi pendidikan Islam kita. Jangan sampai muncul stigma bahwa pondok pesantren rentan terhadap kejahatan seksual,” ujar Iqbal, saat pelantikan pengurus MUI NTB periode 2025–2030 di Auditorium UIN Mataram, Sabtu, 11 April 2026.

Menurutnya, peran MUI tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan normatif. Namun juga harus mampu melakukan ijtihad sosial dalam merespons dinamika masyarakat.

β€œSensitivitas ulama terhadap isu-isu sosial mendesak menjadi kunci menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga keagamaan,” ujarnya.

Selain persoalan pelecehan seksual, Iqbal juga menyinggung masih tingginya angka kemiskinan ekstrem di NTB. Saat ini, tercatat sekitar 114 ribu kepala keluarga yang tersebar di 106 desa masih berada dalam kategori tersebut.

Ia menyebut, pengentasan kemiskinan ekstrem sebagai salah satu program strategis Pemprov NTB. “Selain itu ada ketahanan pangan dan pengembangan pariwisata berkualitas,” katanya.

Mantan Dubes Indonesia untuk Turki ini menambahkan, pembangunan spiritual tidak secara eksplisit dimasukkan dalam program strategis daerah. Namun, ia menegaskan, aspek tersebut merupakan fondasi utama yang menopang keberhasilan seluruh program pembangunan.

β€œPerilaku spiritual yang baik menjadi jaminan tercapainya program-program lain,” ujarnya.

Pentingnya Peran Ulama Menjaga Tegaknya Negara

Sementara itu, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Nusron Wahid, menekankan pentingnya peran ulama dalam menjaga tegaknya negara. Ia menyebut, kekuatan negara bertumpu pada ilmu para ulama, keadilan hukum, serta kebijakan politik yang berpihak pada kesejahteraan rakyat.

β€Žβ€œMUI sebagai wadah berkumpulnya para ulama memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan itu,” kata Nusron.

Ia juga mengutip ajaran ulama besar Abdul Qadir al-Jilani tentang kriteria ulama yang layak diikuti. Yakni memiliki sanad keilmuan yang jelas hingga Nabi Muhammad. Kemudian, mendedikasikan hidup untuk ibadah, serta memiliki rasa takut kepada Allah.

Sementara itu, Ketua MUI Pusat Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital, Masduki Baidlowi, menyoroti tantangan yang para ulama hadapi di era digital. Ia mengatakan, otoritas keagamaan kini kian tergerus oleh arus informasi di media sosial. Di mana lebih mengedepankan viralitas ketimbang substansi.
β€Ž
β€Žβ€œKepercayaan kepada ulama menjadi tantangan serius. Hal itu karena otoritasnya diambil alih oleh algoritma media sosial yang sering mengabaikan kedalaman ilmu,” ujarnya.
β€Ž
β€ŽSementara itu Ketua MUI NTB terpilih, TGH Badrun, menyatakan kesiapan organisasinya untuk mendukung program pemerintah daerah. Terutama dalam pembangunan umat. Ia menyebutkan, kepengurusan MUI NTB periode ini terdiri dari 124 orang. Terdiri dari guru besar, doktor, ulama, dan cendekiawan.
β€Ž
β€Žβ€œKami siap bersinergi untuk memperkuat pembangunan umat di NTB,” kata Badrun. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button