Ekonomi BisnisHEADLINE NEWS

Hilirisasi Tambang Menjadi Nilai Tambah Ekonomi NTB

Mataram (NTBSatu) – Sektor pertambangan masih menjadi salah satu andalan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB. Sebagai contoh, pada triwulan I dan II tahun 2025, pertumbuhan ekonomi NTB mengalami kontraksi paling dalam. Menyentuh angka minus 1,47.

Salah satu penyebabnya, tidak adanya kontribusi sektor pertambangan. Setelah adanya larangan ekspor konsentrat PT AMNT oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM).

IKLAN

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Wahyudin tak menampik kondisi tersebut. Namun di samping itu, ia juga mendorong agar perusahaan tambang, yaitu PT AMNT menyelesaikan proses pembangunan Smelter.

Menurutnya, hilirisasi langsung dan perusahaan melakukan ekspor barang jadi, akan menjadi nilai tambah bagi ekonomi NTB. “Karena hasil olahan itu kan memiliki nilai tambah yang lebih besar daripada kita hanya ekspor konsentrat dalam bentuk mentah,” kata Wahyudin kepada NTBSatu, Senin, 6 April 2026.

Ia menegaskan, upaya hilirisasi sektor pertambangan mampu memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar daripada ekspor bahan mentah atau konsentrat. Pengolahan hasil tambang melalui fasilitas Smelter memungkinkan komoditas seperti tembaga, emas, dan perak tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Nah kalau itu semua bisa dimanfaatkan, hasil tambang yang ada di NTB ya, bisa diolah semua oleh Smelter, nilai tambahnya pasti lebih, daripada kita hanya sekedar mengekspor konsentrat,” jelasnya.

Namun lantaran keberadaan Smelter PT AMNT belum mampu beroperasi secara maksimal, menurutnya, langkah ekspor menjadi salah satu alternatif dalam menjaga pertumbuhan ekonomi NTB. “Ya, kalau kita lihat ini sih mungkin ada perlunya juga (ekspor),” ujarnya.

Kebijakan Ekspor Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi NTB

Ia menjelaskan, ekspor konsentrat lebih diutamakan karena Smelter belum berfungsi secara maksimal. Baru bisa menampung hanya sebagian dari hasil produksi. Artinya, tegasnya, ketika kapasitas masih terpakai kurang dari setengahnya, maka masih memerlukan ekspor konsentrat.

“Ketika nanti produksinya melimpah, kan tidak bisa ditampung oleh Smelter. Tidak bisa ditampung, otomatis overcapacity. Nah kalau overcapacity, mau tidak mau harus diminta juga untuk ekspor konsentrat. Kalau memang terjadi overcapacity,” jelasnya.

“Tapi kalau tidak terjadi hal-hal semacam itu, dan bisa diolah langsung oleh Smelter, itu akan lebih bagus bagi kita, bagi NTB pada khususnya,” tambahnya.
 
Di sisi lain, dengan adanya kebijakan ekspor ini, Wahyudin meyakini, angka pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I tahun 2026 akan lebih baik dari triwulan I tahun 2025. Alasannya, karena pada triwulan I tahun 2025 belum ada ekspor. Sementara itu, triwulan I 2026, kebijakan ekspor sudah dibuka.

“Kalau kita melihat ya, ini kan sebenarnya di triwulan I tahun 2026 ini ada untungnya. Pasti akan tinggi pertumbuhan ekonomi kita. Karena triwulan I tahun lalu kan tidak ada ekspor konsentrat,” jelasnya.
 
Ia menyampaikan, untuk angka pertumbuhan ekonomi NTB triwulan I 2026 akan dirilis bulan Mei mendatang. “InsyaAllah nanti tanggal 5 Mei akan kita rilis. Satu bulan lagi lah,” tutupnya. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button