Kota Mataram

Lurah Dasan Agung Baru Targetkan Dua Tempah Dedoro di Tiap Lingkungan

Mataram (NTBSatu) – Kelurahan Dasan Agung Baru mulai menyisir lahan-lahan kosong di wilayahnya, untuk mengeksekusi program pengelolaan sampah atau yang dikenal dengan Tempah Dedoro.

Lurah Dasan Agung Baru, Rahmat Fakhrurrozi mengatakan, meskipun program ini masih dalam tahap perintisan, pengerjaan fisik di lapangan sudah mulai berjalan dan kesiapan jajarannya sudah matang meski program ini masih dalam tahap awal.

IKLAN

“Kalau kita di Dasan Agung Baru mungkin sudah siap, tetapi di kami sudah mulai. Kami sudah memetakan beberapa lokasi yang potensial,” ungkap Rahmat kepada NTBSatu, Senin, 30 Maret 2026.

Terkait sebaran lokasi, Rahmat tidak ingin program ini hanya menjadi simbolis di satu tempat saja. Ia menargetkan setiap lingkungan memiliki akses ke lubang galian tersebut, guna memangkas alur pembuangan sampah organik.

“Kita usahakan sebanyak mungkin tentunya, tetapi kita melihat kondisi di lapangan, kesiapan lahan di mana kita menggali. Kita harapkan sih sebanyak mungkin agar bisa menampung banyak dalam jumlah yang lebih besar,” jelasnya.

Ia menambahkan target spesifik untuk tiap wilayah. “Minimal paling tidak di setiap lingkungan harus ada dua (titik). Bila perlu akan lebih terus kita tingkatkan sampai dengan sesuai dengan kebutuhan,” ujar Rahmat.

Kuncinya Ada di Pemilahan

Bagi Rahmat, keberadaan lubang Tempah Dedoro tidak akan efektif tanpa kesadaran warga dalam memilah sampah. Ia mendorong warga untuk lebih mandiri dan tidak mencampuradukkan sampah organik dengan plastik.

“Kita arahkan masyarakat agar mandiri mengelola sampahnya. Sampah organik langsung masuk lubang galian untuk jadi pupuk. Sementara sampah plastik, kita minta dipilah lagi, mana yang punya nilai ekonomi seperti botol, dan mana yang benar-benar residu seperti kantong kresek,” tegas Rahmat.

Tantangan Volume dan Lahan

Volume sampah di Dasan Agung Baru tergolong tinggi, terutama di area padat penduduk. Rahmat memaparkan produksi sampah harian sangat bergantung pada jumlah warga di lingkungan tersebut.

“Rata-rata satu harinya itu bisa sampai, kalau misalnya di Pelita, itu bisa sampai dua roda tiga karena memang jumlah penduduknya lebih besar. Kalau seperti di lingkungan Banjar Dasan Agung, satu roda tiga. Di lingkungan Pendidikan dan juga di lingkungan Pemuda juga cukup masing-masing satu roda tiga,” paparnya.

Meskipun terkendala keterbatasan lahan, Rahmat optimis dukungan masyarakat menjadi kunci suksesnya Tempah Dedoro.

“Dengan segala keterbatasan lahan dan juga tanah, tentu tetap mereka kita libatkan masyarakat. Karena kita di kelurahan jika tidak mendapatkan dukungan masyarakat, tentu akan susah sulit juga,” tutupnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button