Pendidikan

SMAN 1 Gunungsari Perkuat Karakter dan Keterampilan Siswa di Tengah Keterbatasan Fasilitas

Mataram (NTBSatu) – SMAN 1 Gunungsari memperkuat karakter dan keterampilan siswa, melalui berbagai program di tengah keterbatasan fasilitas yang masih dihadapi sekolah.

Kepala SMAN 1 Gunungsari, Musyrifin, S.Pd., mengatakan, sekolah memiliki potensi besar dengan luas lahan sekitar 3,2 hektare. “Visi kami mewujudkan sekolah yang edukatif, religius, dan berbudaya,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 30 Maret 2026.

IKLAN

Ia menjelaskan, sekolah melanjutkan program Sekolah Perjumpaan untuk mendorong siswa saling menerima, berkolaborasi, dan berkomunikasi tanpa memandang latar belakang sosial maupun agama.

“Karakter menjadi kunci. Siswa tidak cukup hanya pintar secara akademik, tetapi juga harus mampu bekerja sama,” katanya.

Sekolah juga menerapkan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang berfokus pada pembentukan karakter harian siswa. Selain itu, sekolah mengembangkan program ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) untuk menata lingkungan agar lebih hijau dan nyaman.

“Kami ingin menjadikan lingkungan sekolah lebih asri dan mendukung proses belajar,” katanya.

Sekolah menjalankan program “Bagi Ceria” setiap pagi. Program ini memberi ruang bagi siswa untuk berolahraga maupun mengekspresikan diri melalui seni sebelum masuk kelas.

Pada bidang pembelajaran, Musyrifin mendorong guru menerapkan Pembelajaran Mendalam agar materi tidak hanya bersifat teoritis, tetapi menyentuh praktik nyata. “Pembelajaran harus menyentuh praktik nyata,” jelasnya.

Sekolah mulai menerapkan digitalisasi administrasi, termasuk penggunaan jurnal kelas online untuk absensi yang dikelola admin kelas dari unsur siswa.

Namun, sekolah melarang penggunaan ponsel saat jam kegiatan belajar mengajar. “Kami melarang HP saat KBM agar siswa fokus belajar dan berinteraksi langsung,” tegasnya.

Tantangan SMAN 1 Gunungsari

Di sisi lain, sekolah menghadapi sejumlah kendala. Beberapa bangunan yang dibangun sejak 1994 terdampak gempa dan membutuhkan revitalisasi, terutama perpustakaan dan ruang kelas.

Sekolah juga kekurangan enam ruang kelas, sehingga pihak sekolah menggunakan laboratorium komputer untuk kegiatan belajar mengajar. “Kami kekurangan ruang kelas,” katanya.

Dari sisi sumber daya manusia, sejumlah guru dan staf tata usaha akan memasuki masa pensiun dalam waktu dekat. Kondisi ini diperparah moratorium dana BPP yang berdampak pada pembiayaan kegiatan ekstrakurikuler dan honorarium staf.

“Ini menjadi tantangan dalam pembiayaan kegiatan dan honorarium staf,” ujarnya.

Sekolah menyiapkan program Double Track untuk siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Sekolah merencanakan kerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk pelatihan tata boga, pembuatan kue, dan minuman.

“Kami ingin membekali siswa dengan keterampilan agar mereka bisa bekerja atau berwirausaha,” jelasnya.

Selain itu, sekolah merencanakan pembentukan Kelas Tahfiz dengan memanfaatkan musala sekolah. Saat ini, SMAN 1 Gunungsari mematangkan berbagai program tersebut untuk mencetak lulusan berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button