Angin Puting Beliung Rusak 33 Rumah Warga di Lombok Tengah, Dua Warga Terluka
Mataram (NTBSatu) – Hujan lebat disertai angin puting beliung melanda wilayah Lombok Tengah, pada Selasa, 3 Maret 2026, pukul 09.30 Wita. Insiden tersebut mengakibatkan sedikitnya 33 rumah warga mengalami kerusakan dan 2 warga mengalami luka-luka.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, Sadimin mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan penanganan darurat pada warga terdampak. “Tim BPBD Kabupaten Lombok Tengah sudah berada di lokasi untuk melakukan asesmen dampak kerusakan dan kebutuhan warga,” katanya kepada NTBSatu, Rabu, 4 Maret 2026.
Berdasarkan informasi dari BPBD, dampak terparah terjadi di Desa Selebung, Kecamatan Batukliang. Tercatat sebanyak 31 Kepala Keluarga (KK) dengan dampak kerusakan bangunan yang bervariasi.
Selain kerugian material, Sadimin juga melaporkan ada dua warga di desa yang sama mengalami luka ringan dan sudah mendapatkan penanganan medis.
Terjangan angin puting beliung juga terasa di dua kecamatan lainnya. Di Desa Sukadana, Kecamatan Pujut, terdapat satu rumah yang rusak. Sedangkan di Desa Aik Bukak, Kecamatan Batukliang Utara, mengakibatkan satu rumah terdampak.
Penanganan dan Koordinasi
Saat ini, upaya penanganan darurat tengah dilakukan. Pendataan dan penyaluran bantuan logistik menjadi fokus utama.
BPBD Provinsi NTB telah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Lombok Tengah, TNI/Polri, serta aparat desa setempat untuk memastikan kondisi di lapangan tetap kondusif. “Kebutuhan mendesak saat ini adalah bantuan tanggap darurat serta dukungan logistik dan peralatan (logpal) bagi para penyintas,” lanjutnya.
Waspada Potensi Hujan Tinggi
Berdasarkan laporan BMKG mengenai analisis cuaca, periode dasarian I Maret (1–10 Maret 2026), hampir di seluruh NTB berpeluang 90 persen terjadi hujan dengan intensitas di atas 50 milimeter per dasarian.
Potensi hujan lebat dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian diprediksi melanda Kota Mataram. Kemudian, sebagian Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Utara.
Kondisi ini berpeluang meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi susulan seperti banjir, tanah longsor, hingga angin kencang. BPBD NTB mengimbau masyarakat yang bermukim di wilayah rawan bencana, untuk melakukan langkah mitigasi mandiri saat masa cuaca ekstrem. (Inda)



