Setelah 300 KK Terisolasi, Pemkab Lobar Prioritaskan Rekonstruksi Akses Lembar – Sekotong
Lombok Barat (NTBSatu) – Dua hari terisolasi menjadi pelajaran mahal bagi ratusan warga di Kecamatan Lembar. Putusnya jembatan penghubung Desa Sekotong Timur dan Desa Mareje akibat terjangan arus sungai pada 22 Februari lalu, bukan hanya memutus akses fisik, tetapi juga melumpuhkan aktivitas pendidikan dan ekonomi warga.
Kini, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Pemkab Lobar) memastikan rekonstruksi jembatan tersebut masuk prioritas pembangunan tahun ini. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Lombok Barat, Lalu Ratnawi menyebut, perencanaan teknis tengah dirampungkan sebelum pengerjaan fisik dimulai.
“Ditangani tahun ini. Anggarannya sekitar Rp2 miliar. Sekarang kami sedang menuntaskan DED-nya,” ujarnya, Senin, 2 Maret 2026.
Menurut Ratnawi, desain jembatan baru tidak sekadar mengganti struktur lama, tetapi memperkuat fondasi dan memperpanjang bentang sekitar 10-11 meter. Lebarnya akan menyesuaikan agar kendaraan roda empat dapat melintas dengan lebih aman dan lancar.
“Kami hitung debit air untuk jangka panjang, 20 sampai 30 tahun ke depan. Jadi bukan sekadar tambal sulam,” tegasnya.
Berdampak pada Aktivitas Warga
Rekonstruksi ini menjadi krusial setelah sekitar 300 kepala keluarga di lima dusun terdampak sempat terisolasi. Jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses utama yang menghubungkan dua desa.
Saat ambruk, distribusi bahan pokok tersendat, aktivitas jual beli berhenti, dan warga terpaksa memutar lewat jalur perbukitan yang lebih jauh dan berisiko. Dampak paling terasa terjadi di sektor pendidikan.
Kepala Desa Sekotong Timur, Marwan Hakim, sebelumnya mengungkapkan, sedikitnya lima sekolah terdampak. Ratusan siswa tak dapat berangkat belajar karena akses tertutup.
“Anak-anak tidak bisa lewat. Di SDN 1 saja siswanya sekitar 200 orang, tetapi yang masuk tidak sampai 70,” katanya beberapa waktu lalu.
Tak hanya pelajar, pedagang kecil juga kehilangan akses pasar. Ibu-ibu yang biasa membawa sayur dengan sepeda motor tak lagi bisa melintas. Aktivitas ekonomi desa praktis lumpuh selama akses terputus.
Selain membangun ulang jembatan, Pemkab Lombok Barat juga menganggarkan perbaikan jalan penghubung sepanjang tiga kilometer menuju jalur alternatif arah Kuta Mandalika. Perbaikan akan menggunakan metode hotmix agar kualitas jalan lebih tahan lama.
“Sekalian kita perbaiki jalannya. Jadi jembatan dan jalan terintegrasi,” kata Ratnawi. (Zani)



