ADVERTORIALPendidikan

Didampingi Prodi Pendidikan Sejarah Tamsis, Mahasiswa Internasional Telusuri Jejak Peradaban Kesultanan Bima di Museum Samparaja

Bima (NTBSatu) – Museum Samparaja Kesultanan Bima menerima kunjungan 45 mahasiswa internasional Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) pada Minggu, 11 Januari 2026.

Mereka bersama mahasiswa STKIP Taman Siswa Bima dan dosen Program Studi Pendidikan Sejarah, dalam rangkaian kegiatan Global Civilizational and Intercultural Immersion Program (GCIIP).

Kegiatan study tour yang berlangsung pukul 16.00–17.00 Wita tersebut merupakan program kolaboratif antara mahasiswa internasional, Ummat, dan Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP Taman Siswa Bima. Dengan fokus pada eksplorasi sejarah, nilai, dan sistem peradaban Kesultanan Bima.

Ruang Pembelajaran Lintas Budaya

Penanggung jawab kegiatan, A. Gafar Hidayat, M.Pd., Sekretaris Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP Taman Siswa Bima menjelaskan, kunjungan ini sebagai ruang pembelajaran lintas budaya berbasis sumber sejarah autentik.

IKLAN

“Museum Samparaja menjadi medium strategis untuk memperkenalkan peradaban Bima kepada mahasiswa internasional. Sekaligus memperkuat pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa sejarah,” ujarnya.

Sejarah Museum Samparaja Bima

Penanggung jawab Museum Samparaja Bima, Dr. Dewi Ratna Muchlisa, M.Hum., menyambut langsung kunjungan tersebut. Ia menjelaskan, secara komprehensif peran museum dalam melindungi dan mendokumentasikan warisan sejarah Kesultanan Bima.

Museum Samparaja, katanya, menyimpan naskah-naskah kuno yang merekam perjalanan sejarah Kesultanan Bima sejak awal abad ke-17. Termasuk, dokumen penyelenggaraan pemerintahan kesultanan.

“Di museum ini tersimpan berkas-berkas fisik berupa surat pemerintahan yang ditulis langsung oleh sultan. Mulai dari memo, surat perintah, pengaturan pajak, hingga surat pencopotan jabatan kepada pejabat di berbagai wilayah,” jelasnya.

Salah satu koleksi paling berharga adalah kitab BO Sangaji Kai, naskah asli Kesultanan Bima yang menjadi sumber utama informasi sejarah dan sistem pemerintahan. Kitab ini ditulis menggunakan aksara Melayu Jawi, mencerminkan kuatnya pengaruh Islam dan tradisi intelektual Melayu dalam tata kelola Kesultanan Bima.

Kitab tersebut telah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Sehingga, menempatkan Museum Samparaja sebagai salah satu pusat penting pelestarian sejarah Nusantara di tingkat global.

Selain koleksi tertulis, peserta juga diperkenalkan pada berbagai artefak budaya, seperti senjata tradisional (sampari), baju perang. Kemudian, perlengkapan istana, hingga benda-benda keseharian sultan yang memiliki nilai historis tinggi.

Museum ini juga menyimpan koleksi tenun asli Bima yang sarat filosofi, di antaranya nggusu waru, simbol kelayakan padi. Lalu, rumah adat dan tenun, serta nilai-nilai agama.

Tak hanya itu, terdapat pula tenun khas Sumbawa sebagai penanda hubungan historis antarwilayah. Khususnya, melalui pernikahan putra Kesultanan Bima dengan putri Sultan Sumbawa.

Deretan foto-foto historis perjalanan Kesultanan Bima, terutama pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Salahuddin, turut melengkapi narasi visual yang memperkuat pemahaman peserta tentang dinamika sosial, politik, dan budaya Bima pada masa lalu.

Buka Peluang Kerja Sama

Ia menegaskan, Museum Samparaja Bima memiliki peran strategis sebagai mitra laboratorium perkuliahan. Museum ini secara rutin dimanfaatkan dalam berbagai mata kuliah. Seperti Pengantar Ilmu Sejarah, Kuliah Kerja Lapangan (KKL), Historiografi, dan Telaah Kearsipan.

“Melalui pemanfaatan museum sebagai laboratorium hidup, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas. Tetapi juga berhadapan langsung dengan artefak, naskah kuno, dan arsip sejarah. Ini sangat penting untuk melatih kemampuan berpikir kritis, analitis, serta keterampilan historiografi mahasiswa,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Dewi Ratna Muchlisa juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan STKIP Taman Siswa Bima. Ia mengundang mahasiswa, khususnya dari Program Studi Pendidikan Sejarah, untuk memanfaatkan Museum Samparaja sebagai ruang belajar aksara, membaca dan menulis naskah kuno, hingga menelusuri sejarah Bima secara lebih mendalam dan otentik.

Kunjungan ini harapannya tidak hanya memperkaya wawasan akademik peserta. Tetapi juga menumbuhkan kesadaran generasi muda, baik lokal maupun internasional, akan pentingnya melindungi, merawat, dan melestarikan warisan sejarah serta cagar budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan jati diri bangsa. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button