Pemerintahan

Dikeluhkan Warga, PUPRPKP NTB Target Bangun Jaringan Irigasi Bendungan Meninting pada 2027

Mataram (NTBSatu) – Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) NTB menargetkan pembangunan jaringan irigasi Bendungan Meninting mulai pada 2027.

Jaringan tersebut menjadi bagian dari skema substitusi yang mengalihkan pasokan air Sesela ke High Level Diversion Channel (HLD) untuk melayani daerah irigasi hingga Lombok Tengah.

Sebelumnya, masyarakat mengeluhkan belum bisa menggarap lahan pertanian secara optimal karena jaringan irigasi Bendungan Meninting belum berfungsi, meski Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan bendungan itu di Kabupaten Lombok Barat pada Jumat, 10 Juli 2026 lalu.

IKLAN

Kepala Dinas PUPRPKP NTB, Lalu Kusuma Wijaya mengatakan, pembangunan jaringan irigasi Bendungan Meninting sudah masuk dalam rencana 2027.

Saat ini, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I Mataram masih memfinalisasi pola pembangunan dan teknologi yang akan digunakan. BBWS mengkaji dua alternatif pembangunan saluran, yakni saluran tertutup berupa pipa atau terowongan bawah tanah.

“Untuk Meninting sudah masuk rencana 2027 untuk bisa mulai (pembangunan saluran irigasi),” kata Kusuma kepada NTBSatu, Selasa, 14 Juli 2026.

IKLAN

Menurutnya, penggunaan saluran tertutup membutuhkan pembebasan lahan. Sebaliknya, penggunaan terowongan dapat mengurangi kebutuhan pembebasan lahan sehingga lebih ekonomis.

Karena itu, BBWS Nusa Tenggara I masih mematangkan kajian untuk menentukan teknologi yang paling efisien.

“Kami mencari pola dan teknologi yang paling ekonomis untuk kita laksanakan,” ujarnya.

Kusuma menjelaskan, anggapan Bendungan Meninting belum memiliki jaringan irigasi tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, bendungan tersebut sejak awal Bendungan Meninting menggunakan pola substitusi. Bendungan itu dirancang mengairi wilayah Gunungsari dan sekitarnya di Lombok Barat.

“Selain itu, bendungan juga menjadi sumber air baku bagi Lombok Barat dan rencananya melayani wilayah Sekotong,” tambahnya.

Susun Rencana Pembangunan

Untuk mendukung sistem tersebut, BBWS Nusa Tenggara I telah menyusun rencana pembangunan saluran menuju Sesela. Saluran itu akan menghubungkan Bendungan Meninting dengan High Level Diversion Channel (HLD).

Melalui skema tersebut, air Bendungan Meninting akan menggantikan pasokan air Sesela yang selama ini mengairi Gunungsari dan sekitarnya. Selanjutnya, pengelola akan mengalihkan air Sesela ke HLD untuk melayani daerah irigasi hingga Lombok Tengah.

“Air Sesela nantinya kami alihkan ke HLD Channel hingga melayani wilayah Lombok Tengah,” jelasnya.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat pada Jumat, 10 Juli 2026. Bendungan senilai Rp1,42 triliun itu memiliki kapasitas tampung 12,01 juta meter kubik dengan luas genangan 49,16 hektare.

Kusuma mengatakan, kondisi serupa juga terjadi pada bendungan lain di NTB. Menurutnya, persoalan yang muncul bukan karena bendungan tidak memiliki saluran irigasi.

Saluran irigasi sudah tersedia sebelum bendungan beroperasi, tetapi kapasitasnya belum mampu menyalurkan debit air yang lebih besar setelah bendungan mulai beroperasi.

Karena itu, pemerintah menyesuaikan kapasitas saluran agar distribusi air ke lahan pertanian lebih optimal dan mampu meningkatkan produktivitas pangan.

“Saluran harus kami sesuaikan agar mampu membawa debit air yang lebih besar,” katanya. (*)

Artikel Terkait