Lulusan SMK Jadi Penyumbang Terbesar Pengangguran di Kota Mataram
Mataram (NTBSatu) – Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran di Kota Mataram.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK mencapai 6,47 persen, tertinggi dari pada jenjang pendidikan lainnya.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Mataram, Putra Ekantara mengatakan, secara keseluruhan TPT Kota Mataram pada 2025 tercatat sebesar 4,80 persen. Atau sekitar 11.303 orang.
Menurutnya, tingginya angka pengangguran lulusan SMK menjadi perhatian pemerintah karena lulusan kejuruan sejatinya langsung memasuki dunia kerja.
“Lulusan SMK ini harusnya kan bisa langsung kerja. Tapi mungkin karena alat tidak ada, modal tidak punya. Makanya kami memberikan subsidi dan dukungan berupa alat setelah mereka selesai mengikuti pelatihan,” ujar Putra, Senin, 14 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pelatihan kerja yang berlangsung saat ini berdasarkan hasil survei kebutuhan pasar dan minat generasi muda atau Gen Z. Sejumlah bidang yang memiliki peluang kerja tinggi antara lain pelatihan barista, servis AC, hingga servis handphone.
Menurutnya, pelatihan barista dipilih karena sejalan dengan berkembangnya industri kedai kopi yang banyak diminati anak muda. Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta juga akan difasilitasi dengan peralatan penunjang agar dapat langsung bekerja maupun membuka usaha sendiri.
Prospek Pelatihan yang Menjanjikan
Selain itu, pelatihan servis AC dan servis handphone memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap jasa perawatan AC maupun perbaikan telepon seluler menjadi peluang usaha yang dapat dimanfaatkan oleh para lulusan pelatihan.
“Peluang kerja servis AC ini cukup besar. Begitu juga dengan servis HP. Sekarang hampir semua orang menggunakan handphone sehingga kebutuhan akan jasa perbaikannya juga terus meningkat,” katanya.
Putra menambahkan, Dinas Ketenagakerjaan juga terus memperluas kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri melalui pelaksanaan job fair, program penempatan tenaga kerja, serta rencana pembentukan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di setiap sekolah.
“Ke depan kami ingin ada LPK di masing-masing sekolah agar lulusan bisa langsung terserap ke dunia kerja. Kami juga terus melibatkan perusahaan dalam job fair setiap tahun untuk memperluas kesempatan kerja,” pungkasnya. (*)




