Opini

Kolaborasi Abad ke-21 dan Ancaman Mentalitas Zero-Sum dalam Pendidikan

Oleh: Randitha Missouri, M.Pd – Dosen Universitas Muhamamdiyah Bima

Di tengah derasnya arus perubahan teknologi, kompleksitas persoalan sosial, dan persaingan global, kolaborasi telah menjadi salah satu kompetensi utama abad ke-21. Kemampuan bekerja sama tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai prasyarat keberhasilan individu maupun organisasi. Dunia pendidikan bahkan menempatkan kolaborasi sejajar dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan komunikasi sebagai empat kompetensi utama yang harus dikembangkan.

Ironisnya, ketika kolaborasi terus didengungkan dalam berbagai seminar, pelatihan, dan kebijakan pendidikan, praktik yang terjadi di lapangan sering kali menunjukkan kondisi yang bertolak belakang. Tidak sedikit sekolah, perguruan tinggi, maupun lembaga pendidikan yang masih memelihara budaya kerja yang tertutup. Informasi disimpan, pengalaman enggan dibagikan, inovasi dianggap sebagai milik pribadi, bahkan keberhasilan rekan kerja dipersepsikan sebagai ancaman. Akibatnya, kolaborasi hanya berhenti sebagai slogan, belum menjadi budaya organisasi.

IKLAN

Fenomena tersebut sesungguhnya bukan semata-mata persoalan manajemen, melainkan persoalan cara berpikir. Ada budaya yang tanpa disadari tumbuh dalam sebagian organisasi, yaitu budaya “tidak ingin sukses bersama”. Budaya ini membuat seseorang merasa nyaman ketika dirinya berkembang sendirian, tetapi gelisah ketika orang lain memperoleh kesempatan yang sama. Dalam lingkungan seperti ini, keberhasilan tidak dipandang sebagai capaian kolektif, melainkan sebagai arena kompetisi yang harus dimenangkan secara individual.

Padahal, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa organisasi yang bertahan pada abad ke-21 adalah organisasi yang mampu membangun budaya kolaboratif. Organisasi yang mengandalkan individu-individu hebat tanpa kerja sama yang kuat justru akan kesulitan menghadapi perubahan yang semakin kompleks.

Laporan Leadership for 21st Century Learning yang diterbitkan OECD menegaskan bahwa kepemimpinan pendidikan modern tidak lagi bertumpu pada sosok “pahlawan tunggal”. Keberhasilan organisasi pendidikan justru lahir dari kepemimpinan yang tersebar (distributed leadership), melibatkan banyak orang dalam proses pengambilan keputusan, berbagi tanggung jawab, dan membangun kepercayaan antaranggota organisasi. Dengan kata lain, pendidikan berkualitas hanya dapat tumbuh melalui budaya kolaborasi, bukan budaya individualisme.

IKLAN

Sayangnya, budaya kolaborasi sering kali terhambat oleh pola pikir kelangkaan (scarcity mindset). Pola pikir ini membuat seseorang percaya bahwa keberhasilan adalah sumber daya yang terbatas. Jika orang lain berhasil, maka peluang dirinya dianggap berkurang. Akibatnya, muncul perilaku enggan berbagi informasi, menutup akses terhadap pengetahuan, menghambat inovasi rekan kerja, hingga menciptakan persaingan yang tidak sehat.

Dalam dunia pendidikan, gejala ini bukan sesuatu yang asing. Guru menyimpan perangkat ajar agar tidak digunakan guru lain. Dosen enggan berbagi strategi pembelajaran karena khawatir kehilangan keunggulan. Kepala unit lebih memilih bekerja sendiri dibandingkan melibatkan tim karena merasa semua harus berada dalam kendalinya. Bahkan, tidak sedikit inovasi yang berhenti berkembang karena penciptanya takut kehilangan pengakuan apabila idenya diterapkan secara luas.

Fenomena tersebut sebenarnya bertentangan dengan hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah proses kolektif yang melibatkan banyak pihak. Keberhasilan peserta didik bukan hanya hasil kerja seorang guru, melainkan akumulasi kontribusi kepala sekolah, tenaga kependidikan, orang tua, pemerintah, dan masyarakat. Karena itu, ketika setiap orang memilih bekerja sendiri, yang dirugikan bukan hanya organisasi, tetapi juga peserta didik sebagai penerima layanan pendidikan.

Tokoh manajemen organisasi Peter Senge melalui konsep learning organization menjelaskan bahwa organisasi yang mampu bertahan adalah organisasi yang menjadikan pembelajaran sebagai budaya bersama. Pengetahuan tidak berhenti pada individu, melainkan terus mengalir melalui proses berbagi pengalaman, refleksi, dan pembelajaran kolektif. Organisasi yang dipenuhi individu cerdas tetapi enggan berbagi pengetahuan justru akan kehilangan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Lebih jauh lagi, laporan terbaru UNESCO mengenai kepemimpinan pendidikan menempatkan kolaborasi sebagai salah satu dimensi utama kepemimpinan sekolah. Pemimpin pendidikan tidak lagi dinilai dari kemampuannya mengambil keputusan seorang diri, tetapi dari kemampuannya membangun kepercayaan, memberdayakan orang lain, mengembangkan tim, dan menciptakan ruang partisipasi bagi seluruh warga sekolah. Kepemimpinan yang berhasil bukanlah kepemimpinan yang menghasilkan satu orang hebat, melainkan yang mampu melahirkan banyak orang yang berkembang bersama.

Sayangnya, sebagian organisasi pendidikan masih terjebak pada budaya “superman”. Semua keputusan harus berasal dari satu orang. Semua gagasan harus melewati satu meja. Semua prestasi harus bermuara pada satu nama. Budaya seperti ini mungkin terlihat efektif dalam jangka pendek, tetapi sangat rapuh untuk jangka panjang. Ketika satu orang tersebut berpindah tugas atau pensiun, organisasi kehilangan arah karena pengetahuan tidak pernah diwariskan kepada orang lain.

Budaya tidak ingin sukses bersama juga melahirkan iklim psikologis yang tidak sehat. Orang menjadi enggan mengemukakan pendapat karena takut dikritik. Inovasi tidak berkembang karena khawatir dianggap menyaingi atasan. Diskusi berubah menjadi ajang mempertahankan ego, bukan mencari solusi terbaik. Dalam situasi seperti itu, kolaborasi berubah menjadi formalitas; rapat berlangsung rutin, tetapi tidak melahirkan perubahan yang berarti.

Sebaliknya, organisasi yang membangun budaya saling percaya akan lebih cepat belajar dari keberhasilan maupun kegagalan. Guru tidak malu membuka praktik pembelajarannya untuk diobservasi. Kepala sekolah bersedia menerima kritik dari guru. Dosen lintas disiplin melakukan penelitian bersama untuk menghasilkan solusi yang lebih komprehensif. Setiap individu memahami bahwa keberhasilan organisasi jauh lebih penting daripada popularitas pribadi.

Tidak mengherankan jika berbagai studi menunjukkan bahwa kerja kolaboratif berkontribusi terhadap peningkatan kualitas organisasi, inovasi, dan produktivitas. Dalam dunia akademik, riset kolaboratif lintas penulis dan lintas institusi juga cenderung menghasilkan dampak ilmiah yang lebih tinggi dibandingkan penelitian yang dikerjakan secara individual. Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman perspektif merupakan sumber kekuatan, bukan ancaman.

Karena itu, membangun budaya kolaborasi tidak cukup dilakukan melalui slogan seperti “Mari Bersinergi” atau “Bekerja Bersama”. Kolaborasi harus diwujudkan dalam sistem organisasi. Mekanisme penghargaan perlu mengapresiasi keberhasilan tim, bukan hanya individu. Forum berbagi praktik baik harus menjadi kebiasaan, bukan kegiatan seremonial. Pemimpin juga harus memberi teladan dengan membuka ruang dialog, mendelegasikan kewenangan, dan menunjukkan bahwa keberhasilan orang lain bukan ancaman bagi dirinya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar dunia pendidikan bukanlah kurangnya orang-orang cerdas, melainkan masih banyaknya orang yang ingin berhasil sendirian. Padahal, kemajuan pendidikan tidak pernah dibangun oleh satu tokoh, satu guru, satu kepala sekolah, atau satu dosen. Pendidikan selalu bertumbuh melalui jejaring kepercayaan, kerja sama, dan semangat saling menguatkan.

Sudah saatnya lembaga pendidikan meninggalkan budaya eksklusif yang penuh sekat menuju budaya kolaboratif yang berlandaskan kepercayaan. Sebab, ukuran keberhasilan seorang pendidik bukanlah ketika ia menjadi satu-satunya yang bersinar, melainkan ketika ia mampu menyalakan cahaya bagi orang lain. Di era abad ke-21, kesuksesan tidak lagi diukur dari siapa yang paling cepat mencapai puncak, tetapi dari siapa yang mampu mengajak sebanyak mungkin orang untuk bertumbuh dan berhasil bersama. Itulah esensi kolaborasi yang sesungguhnya, sekaligus fondasi penting bagi masa depan pendidikan Indonesia. (*)

Artikel Terkait