Dua Korban Dugaan Pembakaran Santri di Lombok Tengah Dirawat di RS Bhayangkara, Kemenag Beri Beasiswa
Mataram (NTBSatu) – Dua santri korban dugaan pembakaran di Pondok Pesantren Rosyidatushaulatiyyah Al-Ibrahimi NW, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, mendapat perhatian dari Polda NTB dan Kementerian Agama (Kemenag) NTB.
Kedua korban akan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram dan mendapat jaminan keberlanjutan pendidikan.
Kapolda NTB, Kalingga Rendra Raharja, bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama NTB, Zamroni Aziz, mengunjungi dua korban yang mengalami luka bakar akibat peristiwa yang terjadi pada Desember lalu.
Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk empati sekaligus memastikan kondisi kedua korban yang masih membutuhkan penanganan medis intensif.
“Kami datang ke rumah korban sebagai bentuk empati. Alhamdulillah, untuk perawatan lanjut, kedua korban akan kami bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk perawatan lebih intensif lagi,” ujar Kalingga, Selasa 7 Juli 2026.
Ia mengatakan, salah satu korban masih mengalami luka yang cukup parah sehingga membutuhkan penanganan berkelanjutan. Orang tua kedua korban juga telah menyetujui pemindahan perawatan ke Rumah Sakit Bhayangkara Mataram.
Berikan Santunan dan Beasiswa
Selain memastikan pengobatan, Polda NTB juga memberikan santunan kepada keluarga korban untuk membantu meringankan beban biaya selama proses perawatan.
“Bentuk empati kami juga memberikan santunan untuk meringankan beban dalam rangka berobat,” katanya.
Sementara itu, Zamroni Aziz mengapresiasi langkah Kapolda NTB yang turun langsung mengunjungi korban dan menjamin seluruh biaya perawatan kedua santri tersebut.
Menurutnya, perhatian tidak hanya diberikan pada aspek kesehatan, tetapi juga masa depan pendidikan para korban.
“Karena hari ini anak kita ini masih di jenjang SMP dan mereka menginginkan ke tsanawiyah. InsyaAllah sampai selesai tsanawiyahnya akan kami beasiswakan,” ujarnya.
Pihak Kemenag NTB saat ini juga tengah mengurus pemindahan data pendidikan korban agar dapat melanjutkan sekolah di madrasah tsanawiyah negeri.
Di sisi lain, bibi korban, Nurul Hidayah, mengaku keluarga selama ini menanggung sendiri biaya kontrol kesehatan korban.
Ia menuturkan, korban harus menjalani kontrol dua kali dalam sepekan dan hingga kini masih belum bisa berjalan normal.
“Sekarang baru satu atau dua langkah, itu pun masih jatuh dan harus dituntun,” ujarnya.
Nurul berharap para pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut dapat memberikan perhatian dan bertanggung jawab terhadap kondisi kedua korban. (*)




