Paparan Pertumbuhan Ekonomi NTB 12,49 Persen Disorot, Akademisi Ingatkan Jangan Salah Tafsir
Mataram (NTBSatu) – Paparan data pertumbuhan ekonomi dalam Musrenbang Provinsi NTB 2026 menuai sorotan. Angka pertumbuhan sebesar 12,49 persen dinilai berpotensi menimbulkan persepsi berlebih, jika tidak dipahami secara utuh.
Pengamat Ekonomi Universitas Mataram, Iwan Harsono mengatakan, data tersebut perlu dibaca secara komprehensif agar tidak menimbulkan salah tafsir di masyarakat.
“Perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan IV-2025 menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan, tetapi perlu dipahami dengan cara yang tepat agar tidak menimbulkan salah tafsir,” ujarnya kepada NTBSatu, Kamis, 16 April 2026.
Ia menjelaskan, angka 12,49 persen (year–on–year) menggambarkan kondisi ekonomi NTB pada akhir 2025 jauh lebih baik dari periode yang sama tahun 2024.
“Lonjakan ini terutama didorong oleh meningkatnya ekspor dan aktivitas industri pengolahan, sehingga terlihat sangat tinggi,” jelasnya.
Namun demikian, Iwan menyentil indikator lain juga perlu diperhatikan agar gambaran ekonomi tidak bias.
“Jika dilihat dari pertumbuhan antar triwulan sebesar 3,97 persen (quarter–to–quarter), artinya ekonomi NTB sebenarnya tumbuh secara normal dari triwulan III ke triwulan IV 2025. Ini mencerminkan ritme pertumbuhan yang lebih realistis dalam jangka pendek,” paparnya.
Lebih lanjut, secara kumulatif tahunan sebesar 3,22 persen (cumulative–to–cumulative), menunjukkan sepanjang tahun 2025 ekonomi NTB tumbuh dalam kategori moderat. “Angka ini memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kondisi ekonomi selama satu tahun penuh,” tambahnya.
Ia merangkum, ketiga indikator tersebut harus dipahami dalam konteks yang berbeda. Iwan juga mengingatkan, agar pemerintah lebih bijak dalam menyajikan data ekonomi ke publik.
Ia mengingatkan, jangan sampai pemerintah hanya menonjolkan angka tinggi yang memicu euforia. Padahal secara substansi pertumbuhan kita masih moderat dan bahkan berada di bawah rata-rata nasional, yang tercatat 5,11 persen.
“Dengan kata lain, angka 12,49 persen menunjukkan ‘lonjakan sesaat’, angka 3,97 persen menunjukkan ‘gerak ekonomi terbaru’, dan angka 3,22 persen inilah yang menunjukkan ‘kondisi sebenarnya selama setahun’,” jelasnya. (*)



