Menhan dan Komandan Garda Revolusi Iran Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel-AS
Jakarta (NTBSatu) – Menteri Pertahanan (Menhan) Iran, Amir Hatami dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS), Sabtu, 28 Februari 2026.
Selain Hatami, Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammed Pakpour juga diyakini menjadi korban dalam operasi tersebut.
Informasi mengenai kematian dua pejabat militer Iran itu diungkap oleh dua sumber yang mengetahui operasi militer Israel serta satu sumber regional, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Pemerintah Iran terkait kabar tersebut. Di tengah laporan itu, Iran disebut masih terus melancarkan serangan balasan dengan menargetkan sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan AFP, ledakan masih terus terjadi di beberapa negara kawasan, termasuk Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan, pihaknya akan terus melakukan serangan sebagai bentuk pertahanan negara dari agresi militer musuh.
“Sekarang rakyat Iran bangga karena telah melakukan segala yang diperlukan untuk mencegah perang. Sekarang saatnya membela tanah air dan menghadapi agresi militer musuh,” demikian pernyataan resmi kementerian tersebut.
Pernyataan itu juga menegaskan, meski Iran tetap membuka peluang negosiasi, angkatan bersenjata negara itu siap memberikan respons tegas terhadap pihak yang dianggap sebagai agresor. Hal ini menandai meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.
Israel dan AS Serang Iran
Sebagai informasi, AS dan Israel telah melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran pada Sabtu pagi waktu Iran. Serangan itu diklaim itu menghilangkan ancaman yang ditimbulkan oleh rezim Iran.
Pernyataan video terpisah telah dirilis oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan Presiden AS, Donald Trump yang juga mengisyaratkan dukungan terhadap upaya perubahan pemerintahan di Teheran.
Iran menyebut serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan. Militer berjanji untuk membalas dan melancarkan serangan balasan. Iran kemudian melancarkan serangan balasan yang menyasar sejumlah pangkalan militer AS di wilayah Timur Tengah.
Rentetan ledakan mengguncang sejumlah negara Teluk Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Mulai dari Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, hingga Kuwait semuanya melaporkan rentetan ledakan setelah AS bersama Israel menyerang Iran. (*)



