Gekrafs Dorong Pelaku Ekraf NTB Manfaatkan KUR Rp10 Triliun
Mataram (NTBSatu) – Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) memperkuat ekosistem ekonomi kreatif (ekraf) di Nusa Tenggara Barat (NTB) inovasi pembiayaan berbasis Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Wakil Ketua Harian DPP Gekrafs, Noval Abuzzar, mengatakan potensi ekraf NTB sangat besar dan bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah.
“NTB punya potensi luar biasa. Produk seperti kerajinan rotan, gelang khas, sampai motif Sasambo itu kualitasnya sudah kelas dunia,” ujar Noval usai Pembukaan Muswil I DPW Gekrafs NTB 2026 di Mataram, Minggu, 1 Maret 2026.
Menurutnya, potensi tersebut harus diperkuat dengan dukungan sektor pariwisata. “Kita ini dekat dengan Bali dan punya Mandalika sebagai magnet wisata. Produk kreatif NTB harus bisa masuk ke rantai nilai pariwisata itu,” katanya, merujuk pada Bali dan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika.
Ia kemudian menekankan pentingnya kolaborasi konkret antara komunitas, pemerintah, dan swasta. “Tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Harus ada ekosistem yang saling menguatkan,” lanjutnya.
Brand Bisa Jadi Jaminan KUR
Noval juga menyoroti skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbasis HAKI yang dinilai menjadi terobosan besar bagi pelaku ekraf.
“Sekarang kalau punya brand dan sudah terdaftar HAKI, itu bisa dijadikan jaminan untuk mengakses KUR,” jelasnya.
“Selama ini orang berpikir harus punya tanah atau bangunan untuk pinjam ke bank. Sekarang nilai merek bisa dihitung dan dijadikan agunan,” sambungnya.
Ia menyebut pemerintah menargetkan penyaluran KUR hingga Rp10 triliun untuk sektor ekraf tahun ini.
“Targetnya Rp10 triliun. Ini peluang besar. Tinggal bagaimana pelaku usaha memanfaatkannya,” ujarnya.
Menurut Noval, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Otoritas Jasa Keuangan telah menyiapkan tim penilai untuk melakukan valuasi merek.
“Sekitar 60 tim appraisal sudah disiapkan. Jadi brand itu dinilai secara profesional sebelum dijadikan jaminan,” katanya.
Ingatkan Tidak Bergantung pada Tambang
Menanggapi kondisi ekonomi NTB, Noval mengingatkan pentingnya diversifikasi sektor. “Jangan terus bergantung pada tambang. Ekonomi kreatif ini sektor masa depan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak sekadar mengejar kepemilikan aset fisik.
“Jangan hanya fokus flexing aset. Fokuslah pada peningkatan omzet dan efisiensi usaha,” ujarnya.
“Di tengah situasi global yang tidak menentu, manajemen keuangan dan gaya hidup pengusaha sangat menentukan keberlanjutan bisnis,” tambahnya.
Muswil I Gekrafs NTB: “Kreativitas Bernilai
Sementara itu, DPW Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional NTB resmi menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) I tahun 2026 dengan mengusung tema “Kreativitas Bernilai”.
Ketua DPW Gekrafs NTB, Yeyen Seprian Rachmat, mengatakan Muswil ini menjadi momentum penting untuk memperkuat arah gerak organisasi.
“Muswil ini bukan sekadar agenda rutin. Ini momentum menyatukan visi pelaku ekraf di 10 kabupaten/kota di NTB,” ujar Yeyen.
Ia menjelaskan, tema “Kreativitas Bernilai” dipilih agar pelaku industri kreatif tidak hanya menonjolkan estetika.
“Kami ingin kreativitas itu punya nilai ekonomi yang nyata dan berkelanjutan,” katanya.
Yeyen juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah dan sektor swasta.
“Kami ingin hubungan dengan pemda semakin kuat. Tanpa dukungan kebijakan dan kolaborasi, ekraf sulit berkembang maksimal,” tegasnya.
Terkait akses permodalan, ia memastikan Gekrafs NTB siap mendampingi anggota.
“Kami akan bantu pelaku usaha mengurus HAKI, memahami skema KUR, dan mengakses pembiayaan. Jangan sampai peluang Rp10 triliun itu tidak terserap di NTB,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pengembangan sumber daya manusia sebagai fokus utama program kerja.
“Skill kreatif harus dibarengi kemampuan manajerial. Pencatatan keuangan, strategi pemasaran, hingga digitalisasi harus diperkuat,” katanya.
Yeyen optimistis ekraf NTB mampu menjadi tulang punggung ekonomi daerah. “Kami ingin setiap ide anak muda NTB punya nilai jual dan mampu membuka lapangan kerja seluas-luasnya,” tutupnya. (*)



