Sains & Teknologi

Mengenal Gelombang MJO, Kelvin, dan Low Frequency Pemicu Cuaca Ekstrem NTB

Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) mengungkap, pemicu cuaca ekstrem yang melanda Nusa Tenggara Barat (NTB) belakangan ini.

BMKG mengidentifikasi adanya aktivitas simultan dari tiga gelombang atmosfer utama, yaitu MaddenJulian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Low Frequency. Keberadaan secara kolektif meningkatkan massa udara basah di wilayah tropis.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi ZAM, Anggi Dewita menyebutkan, ketiga gelombang atmosfer ini memiliki pengaruh besar dalam pembentukan cuaca. Serta, mengatur variabilitas cuaca di wilayah tropis, termasuk Indonesia.

“Ketika ketiganya aktif bersamaan, potensi pertumbuhan awan hujan di permukaan bumi akan meningkat drastis,” katanya kepada NTBSatu, Jumat, 27 Februari 2026.

Berdasarkan keterangan dari Anggi, ketiga gelombang memiliki ciri yang unik. Ia menyebut, MJO sebagai gangguan atmosfer yang bergerak merambat di sepanjang ekuator dari Barat ke Timur dengan siklus berulang setiap 30 hingga 60 hari.

Berdasarkan pantauan secara spasial, saat ini NTB dilanda fenomena MJO yang terpantau berada di fase 2 dan 3. Artinya, berarti memiliki peran signifikan terhadap pasokan uap air.

Sementara itu, gelombang Kelvin merupakan gelombang planeter yang dibangkitkan karena osilasi pola pemanasan konvektif skala luas di lapisan troposfer ekuatorial. Kelvin bergerak ke arah Timur dengan kecepatan lebih tinggi dari MJO. Ia mulai terdeteksi aktif di wilayah Indonesia sejak 25 Februari 2026 lalu.

Di antara keduanya, ada fenomena Low Frequency yang sedang terjadi di NTB. Fenomena ini merupakan gangguan ekstrem yang cenderung menetap atau bergerak sangat lambat dengan periode panjang di atas 60 hingga 90 hari.

Lima Faktor Penguat Curah Hujan

BMKG Stasiun Meteorologi ZAM menegaskan, jika aktifnya ketiga gelombang tersebut juga akibat empat faktor pendukung lain. Yakni, Monsun Asia, Indeks SOI (La Nina lemah), pertemuan dan belokan angin, dan kelembaban udara, hingga cuaca semakin ekstrem.

“Interaksi antara fenomena global, seperti MJO dan La Nina lemah bertemu dengan dinamika lokal, seperti belokan angin menciptakan kondisi atmosfer yang sangat labil di NTB,” lanjutnya.

Mitigasi Bencana Meteorologi

Dampak dari serangan ketiga fenomena ini sudah terlihat sejak beberapa waktu lalu, ditandai dengan terjadinya banjir di sejumlah wilayah NTB.

BMKG juga mengingatkan, selama ketiga gelombang tersebut masih aktif risiko bencana seperti banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang masih berpotensi terjadi.

Anggi juga mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap hujan lebat, dan potensi kilat hingga petir, yang menandakan aktifnya gelombang Kelvin.

“Kami meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Pastikan saluran drainase berfungsi dengan baik dan hindari berteduh di bawah pohon atau papan reklame saat angin kencang melanda,” tambahnya. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button