Sumbawa

Awal Ramadan, Harga Cabai di Sumbawa Fluktuatif

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Harga cabai di Pasar Seketeng, Sumbawa, sempat menyentuh Rp150 ribu per kilogram dan kini turun menjadi Rp120 ribu per kilogram. Namun, penurunan itu belum membuat pembeli bernapas lega.

Fluktuasi yang terjadi dalam hitungan hari memicu kekhawatiran akan lonjakan harga susulan, terlebih saat Ramadan. Menurut pantauan NTBSatu, salah seorang pedagang di Pasar Seketeng, Nia (29) mengungkapkan, naik-turunnya harga dipicu oleh kelangkaan pasokan dan rantai distribusi yang panjang.

“Kemarin itu Rp150 ribu per kilogram, sekarang turun jadi Rp120 ribu,” ujar Nia kepada NTBSatu, Senin, 23 Februari 2026.

Menurutnya, harga cabai di Sumbawa sangat bergantung pada ketersediaan barang di pasar. “Cabai ini langka, pengambilan barangnya dari tangan ke tangan, jadi harganya cepat berubah,” lanjutnya. 

Ia menjelaskan, dua hari lalu harga terus merangkak naik, lalu turun karena ada tambahan pasokan. Namun kondisi itu belum tentu bertahan lama. “Kalau besok barang tidak masuk lagi, ada kemungkinan harga naik lagi,” jelasnya. 

Harga Komoditas Lain Relatif Stabil

Meski cabai bergejolak, Nia memastikan harga komoditas lain relatif stabil. “Bawang putih, bawang merah, sama tomat masih stabil. Yang paling terasa cuma cabai,” ungkapnya. 

Di sisi lain, kondisi ini memberatkan pembeli, Fitri (36) salah satu warga yang berbelanja di pasar tersebut, mengaku kini lebih berhitung dalam membeli kebutuhan dapur. “Kita jadi takut beli banyak, paling sedikit saja untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap Fitri kepada NTBSatu.

Ia mengatakan, cabai yang biasanya menjadi bahan pokok dalam masakan kini harus digunakan lebih hemat. “Kalau mau pakai cabai juga harus hati-hati, mengingat harganya tinggi,” katanya. 

Kekhawatiran semakin terasa karena sebagian masyarakat belum memiliki penghasilan tetap. “Penghasilan belum ada sekarang, makanya semua harga di pasar terasa mahal, apalagi Ramadan begini,” tutupnya. 

Fluktuasi harga cabai di Pasar Seketeng menunjukkan rapuhnya pasokan komoditas hortikultura di tingkat lokal. Ketika stok terbatas, harga melonjak tajam.

Sebaliknya, saat pasokan melimpah, harga langsung terkoreksi. Tanpa intervensi distribusi dan pengendalian stok, masyarakat berpotensi terus menghadapi “pedasnya” harga di tengah kebutuhan yang meningkat jelang bulan suci. (Marwah)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button