Lahan Pertanian di Mataram Tergerus, Berubah Jadi Kavling Perumahan
Sebaran Penggunaan Lahan per Kecamatan
Berdasarkan data luas wilayah Kota Mataram 2025, total luas lahan tercatat mencapai 1.458,71 hektare. Dari luasan tersebut, kondisi penggunaan lahan di masing-masing kecamatan menunjukkan disparitas yang cukup signifikan.
Di Kecamatan Ampenan, dari total luas 146,91 hektare, tidak lagi ada lahan teknis pertanian. Seluruh wilayahnya telah beralih fungsi menjadi bangunan dan kavlingan.
Hal serupa terjadi di Kecamatan Sekarbela dengan luas 416,21 hektare yang sepenuhnya untuk infrastruktur pemukiman, mulai dari jalan, bangunan, hingga perumahan.
Sementara itu, Kecamatan Mataram masih menyisakan lahan teknis seluas 79,85 hektare dari total luas 202,36 hektare. Adapun sisa wilayahnya telah berubah menjadi kawasan pemukiman dan jaringan jalan.
Berbeda dengan wilayah lain, Kecamatan Selaparang dan Cakranegara hingga kini masih konsisten mempertahankan lahan teknis secara utuh, masing-masing seluas 156,02 hektare dan 138,24 hektare.
Adapun Kecamatan Sandubaya tercatat sebagai wilayah dengan lahan teknis terluas, yakni mencapai 398,97 hektare yang pemanfaatannya untuk kawasan perkantoran maupun peruntukan khusus lainnya.
Jauhari tidak menampik, penyusutan lahan pertanian berdampak pada menurunnya produksi padi di tingkat kota. Namun, ia memastikan, kebutuhan pangan masyarakat Kota Mataram tetap aman karena berasal dari daerah penyangga di sekitarnya.
Saat ini, Pemerintah Kota Mataram terus melakukan sinkronisasi dan pemutakhiran data bersama Bappeda, BPS, serta Dinas Pekerjaan Umum guna memastikan arah pembangunan kota tetap sejalan dengan upaya mempertahankan sisa lahan produktif yang masih tersedia.
“Kota Mataram adalah kota perniagaan. Untuk urusan pangan, kita ditopang oleh daerah penyangga seperti Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Utara. Dengan pola ini, kebutuhan masyarakat dan sektor pariwisata tetap terjamin,” jelasnya. (*)



