Sumbawa

HUT Ke-67 Kabupaten Sumbawa, Sultan: Jaga Kedekatan dengan Rakyat

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV Sumbawa, mengapresiasi satu tahun kepemimpinan Bupati Syarafuddin Jarot – Mohamad Ansori. Sultan melihat, keduanya menghadapi berbagai dinamika dan persoalan yang muncul.

Namun sejauh ini, Sultan menilai, tidak ada penolakan masyarakat yang bersifat luas terhadap pemerintah daerah. Adanya kritik, bagian dari aspirasi yang harus didengar.

“Sampai hari ini kesan mereka (masyarakat) terhadap dua orang ini (Bupati dan Wakil) sangat baik. Jadi, jangan nanti menggosok-gosok hal negatif terutama di akhir jabatan,” ujar Sultan dalam wawancara dengan NTBSatu, Selasa, 20 Januari 2026.

Demikian, Sultan secara pribadi mengutarakan kesan baik melihat selama satu tahun kerja Jarot-Ansori, terutama dalam menangani masalah yang ada.

IKLAN

“Kesan saya pribadi terhadap mereka sangat baik, saya tidak pernah merasa sangat puas dengan cara mereka menghadapi masalah di Sumbawa, dari pembangunan dan efisiensi. Tapi mereka cukup lincah menanganinya,” tuturnya.

Terlepas dari kesan yang dirasakan, Sultan juga mengingatkan capaian kinerja pemerintahan harus diiringi dengan karakter kepemimpinan yang jujur dan dekat dengan rakyat.

Ia mengingatkan agar tidak tidak keluar dari filosofi Tu Samawa (Masyarakat Sumbawa), di mana jangkauan ke masyarakat terus diperhatikan, guna tidak memunculkan kesan seolah-olah masyarakat tidak diberi kabar yang utuh atas kondisi yang dihadapi pemerintah.

“Pemimpin sebagaimana adat Sumbawa, datang ke rumah ke rumah, kurang enak jika kita panggil ke pendopo atau tempat lain, barangkali mereka sedang di sawah,” ujarnya.

Jangan Defensif Kepada Rakyat

Sultan menyoroti pentingnya sikap pemimpin daerah dalam merespons kritik dan persoalan. Menurutnya, kesalahan atau kekurangan dalam pemerintahan tidak perlu ditutupi atau disikapi secara defensif.

Ia meminta Bupati dan Wakil Bupati, serta seluruh jajaran pemerintah daerah, untuk berani menyampaikan kondisi yang sebenarnya kepada rakyatnya, termasuk soal keterbatasan dan tantangan.

“Katakan apa adanya. Kondisinya begini, keuangannya begini. Kejujuran itu yang penting, sebagaimana citra kita (masyarakat Sumbawa),” kata Sultan.

Pemimpin Berpikir Luas 

Dalam pesannya, Sultan juga menekankan agar pemimpin daerah tidak terjebak pada cara pandang yang sempit. Menurutnya, persoalan daerah itu pasti terjadi, tidak hanya Kabupaten Sumbawa namun di tempat lain pun demikian.

“Jangan hanya berpikir Sumbawa, jangan hanya NTB, jangan hanya Indonesia. Kita harus berpikir luas, karena dunia juga saling terkait, semua memiliki masalahnya” ujarnya.

Pandangan luas tersebut, menurut Sultan, penting agar kebijakan dan solusi yang diambil tidak bersifat jangka pendek, tetapi berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan.

Sultan juga menyinggung nilai sejarah Sumbawa sebagai cermin karakter kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa sejak masa lalu, masyarakat Sumbawa dikenal terbuka, jujur, dan manusiawi dalam menghadapi berbagai pihak, termasuk bangsa asing pada masa kolonial hingga pendudukan Jepang.

Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa konflik dapat diminimalkan ketika pemimpin dan masyarakat menjunjung kejujuran serta saling menghormati.

“Orang Sumbawa itu terbuka. Tidak keras, tidak kasar, selama diperlakukan secara manusiawi,” ujarnya.

Pesan untuk Bupati dan Wakil Bupati

Menutup pernyataannya, Sultan menyampaikan pesan reflektif kepada Bupati dan Wakil Bupati agar terus menjaga kedekatan dengan masyarakat. Ia menilai, kepemimpinan tidak cukup dijalankan secara administratif atau formal, tetapi harus dibangun melalui hubungan kemanusiaan.

Menurut Sultan, meskipun nilai-nilai kesultanan kerap dipersepsikan feodal, sejatinya nilai tersebut menekankan adab, penghormatan, dan kedekatan pemimpin dengan rakyat.

“Hubungan manusia itu lebih penting daripada sekadar prosedur. Kalau ada masalah, jangan ditutup-tutupi. Hadapi cepat, jujur, dan terbuka,” tegasnya.

Sultan berharap, pesan tersebut dapat menjadi pengingat agar kepemimpinan di Kabupaten Sumbawa tetap berorientasi pada kepercayaan publik, keterbukaan, dan keberpihakan kepada masyarakat.

“Mudahan praktik sampai saat ini masih berjalan baik, kita doakan bersama, supaya nuansa itu tetap dijaga, karena saya lihat masyarakat antusias membantu mereka,” tutupnya. (Alwi)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button