Lima Daerah Terdampak Bencana, Pemprov NTB Gelontorkan Rp16 Miliar BTT untuk Penanganan
Mataram (NTBSatu) – Sebanyak lima kabupaten di Provinsi NTB diterjang bencana banjir, dalam beberapa hari terakhir. Kelima daerah tersebut adalah Kabupaten Dompu, Bima, Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Barat.
Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, Sadimin menyampaikan, secara akumulasi, akibat bencana tersebut, ribuan Kepala Keluarga (KK) terdampak. Infrastruktur jembatan dan rumah-rumah warga rusak.
Sadimin mengaku, pihaknya belum mengakumulasikan total kerugian dari bencana alam ini. Menyusul timnya saat ini masih melakukan pendataan di lapangan.
“Belum (hitung kerugian) ya. Kan baru ini, untuk menghitungnya kan butuh waktu, nggak cepat. Tapi tim reaksi cepat lagi turun ke lapangan,” kata Sadimin, Kamis, 15 Januari 2026.
Namun sebagai bentuk penanganan pasca bencana, Pemprov NTB sudah menganggarkan Rp16 miliar. Anggarannya bersumber dari Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD NTB 2026.
“Sesuai rapat tadi malam, Pemprov mengalokasikan Rp16 miliar BTT untuk penanganan,” ujarnya.
Sadimin menilai, berdasarkan hasil perhitungannya, anggaran Rp16 miliar ini belum cukup untuk meng-cover seluruh kerusakan dan kerugian akibat bencana tersebut.
Karena itu, penanganannya secara terpadu dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kabupaten, Pemerintah Pusat melalui BNPB, serta Balai Wilayah Sungai (BWS), sesuai dengan kewenangan masing-masing.
Anggaran Rp16 miliar ini, lanjutnya, penggunaannya berdasarkan skala prioritas. Dalam hal ini yang masuk prioritas adalah perbaikan jembatan-jembatan yang rusak.
“Ini kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan logistik bagi warga terdampak. Namun yang paling prioritas adalah untuk perbaikan infrastruktur jembatan. Karena saya kira (anggaran) ini nggak bisa meng-cover semuanya,” jelas Sadimin.
Dugaan Penyebab Banjir Sekotong
Terkait kondisi di Sekotong, pemerintah juga menyoroti persoalan lingkungan dan perubahan tutupan lahan yang dinilai menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya kejadian banjir. Kawasan yang sebelumnya memiliki tutupan vegetasi, kini banyak berubah fungsi menjadi lahan pertanian, seperti tanaman jagung.
“Kalau kita lihat ke bagian atas, tutupan lahannya sudah berubah. Ini menjadi pelanggaran dan harus kita sadari bersama. Perilaku seperti ini harus diubah,” katanya.
Ia menambahkan, banjir besar sebelumnya jarang terjadi di wilayah tersebut. Namun dalam empat hingga lima tahun terakhir, intensitas dan dampaknya semakin parah.
“Selain faktor curah hujan, alih fungsi lahan dan aktivitas manusia dinilai turut memperburuk kondisi lingkungan,” ujarnya. (*)



