Kisah Haru Perempuan di Desa Pandan Indah Mengakhiri Krisis Air
Mataram (NTBSatu) — Krisis air dan ketimpangan gender telah menjadi isu krusial bagi warga Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah.
Sudah bertahun-tahun, daerah tersebut dilanda kekeringan paling parah di Lombok Tengah. Musababnya, lokasi desa yang jauh dari jangkauan mata air alami, juga terjadinya penurunan curah hujan drastis selama musim kemarau. Sehingga hal ini menyebabkan cadangan air tanah dan sumur-sumur menjadi kering.
Situasi ini menambah beban hidup masyarakat setempat, terutama perempuan. Sebab, mereka harus menimba air dari sumur dengan melewati bukit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Selama lebih dari 20 tahun saya naik turun bukit ambil air. Jam 4 subuh, saya jalan sendirian menuju Eat Panggongan. Dalam sehari saya mengambil air 1 s.d 3 kali. Jarak dari rumah ke sumber air sejauh 5 km,” ujar salah satu warga Desa Pandan Indah, Inaq Indah.
Selain itu, setiap musim hujan, warga juga menampung air untuk memenuhi kebutuhan seperti memasak, mandi dan mencuci. Untuk minum, mereka membeli air seharga Rp 5000 per ember.
Pada tahun 2015, Kementrian DESDM membangun sumur bor di Desa Pandan Indah dengan kedalaman 105 m, dengan perangkat listrik dan solar.
Namun, berdasarkan informasi dari Kepala Desa Pandan Indah, Maksum, S. Pd. I, penggunaan sumur tersebut tidak berlangsung lama, lantaran membutuhkan pembiayaan berkelanjutan agar sumur tetap berfungsi, seperti biaya listrik dan pembelian solar.
“Listrik jangkauannya jauh, solar langka. Jika menggunakan listrik, boros. Warga kerap iuran untuk bayar listrik. Yang bisa mengambil air dengan jumlah besar yang bayar listrik atau beli solar. Tidak semua warga menikmati hasilnya. Air diambil lagi ke sumur kali,” jelasnya.
Hal ini mengakibatkan sumur bor mangkrak dan perempuan desa memulai kembali aktivitas mereka dari nol, yaitu menimba air di perbukitan. Isu kesenjangan air bersih kembali menjadi sorotan.
Kolaborasi Atasi Persoalan Air Desa Pandan Indah
Pada tahun 2023, para perempuan yang tergabung dalam Sekolah Setara (Sekra), berkolaborasi dengan Gema Alam NTB sebuah lembaga yang mendampingi desa, untuk bersama-sama mengidentifikasi permasalahan utama di Desa Pandan Indah, yakni kesenjangan air bersih.
Pada tahun pertama, mereka melakukan peningkatan kapasitas, dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur bermodalkan sumur bor yang terbengkalai di tahun kedua. Dari penggunaan sumur tersebut, munculah ide penggunaan panel surya sebagai pembangkit air.
Sebagai salah satu SMK yang memiliki jurusan Teknik Energi Terbarukan di Lombok, SMKN 1 Lingsar kemudian dihubungkan dengan Ide ini untuk membangun Solar Water Pump (SWP) tanpa baterai melalui Gema Alam NTB.
Selanjutnya, yang menjadi persoalan adalah masalah anggaran desa yang terbatas. Namun, perempuan Sekra tak berhenti memperjuangkan harapan mereka.
Setelah melalui banyak penolakan, mulai dari pemerintah desa hingga upaya mereka dalam menemui pihak kabupaten, kini mulai menemui titik terang. Akhirnya anggaran pembangunan infrastruktur SWP kini tersedia dari APBDes sejumlah Rp48 Juta.
Pembangunan SWP
Pada 19-24 April 2024, harapan warga Desa Pandan menjadi kenyataan dengan berhasilnya pembangunan SWP yang berkapasitas 1.960 MW untuk memompa air. Sorak sorai gembira bercampur haru membelah suasana ketika air deras keluar dari sumur.
Harapan itu menjadi nyata! keberhasilan ini mengakhiri penderitaan warga Desa Pandan Indah terhadap krisis air yang menimpa mereka selama bertahun-tahun.
Ketua Sekolah Setara, Sri Mawarni, menyampaikan kebahagiaan yang mendalam terhadap keberhasilan pembangunan SWP ini, lantaran para perempuan Desa tak lagi harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih.
“Saya senang sekali dengan berfungsinya sumur bor dengan menggunakan SWP. Dari subuh ibu-ibu tidak lagi berjalan jauh mengambil air. Air sudah ada di depan mata kita dan tidak lagi membebani secara ekonomi,” ujarnya.
Belajar dari pengalaman sumur bor terdahulu, Sekra melibatkan perempuan desa dalam pemeliharaan sumur bor, yaitu dengan menunjuk Inaq Antiq sebagai petugas pemelihara panel surya karena posisi rumah Antiq berada di sebelah SWP, sehingga lebih mudah untuk melakukan pengecekan.
Adapun perawatan untuk SWP yaitu berdasarkan musim. Kala musim hujan, panel surya dibersihkan dua kali setahun, sedangkan di musim kemarau, dibersihkan satu kali dalam tiga bulan.
Penerima manfaat dari sumur bor ini sebanyak 60 KK, dengan kapasitas tandon (penampung air) 1.200 liter. Namun, pengisian tandon sampai penuh harus menunggu sekitar dua jam.
Salah satu penerima manfaat SWP, Inaq Indah, menyatakan kebahagiaannya setelah adanya SWP, karena ia tak lagi menimba air melewati bukit dengan berbagai potensi bahaya yang mengintai.
“Dengan adanya aliran air dari pipa SWP, saya tidak pernah lagi naik turun bukit ambil air,” jelasnya. (Marwati)



