Pantau Proyek Kantor Wali Kota Mataram, Komisi III DPRD Beri Catatan Khusus soal Amdal dan Lalu Lintas Jalan
Mataram (NTBSatu) – Komisi III DPRD Kota Mataram melakukan kunjungan lapangan, untuk mengawasi langsung progres pembangunan tahap pertama Kantor Wali Kota. Langkah ini bertujuan memastikan penggunaan anggaran dan realisasi fisik bangunan berjalan maksimal di lapangan.
Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, Abd Rachman mengatakan secara umum fisik bangunan telah memenuhi target tahap awal. Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai perubahan desain yang cukup mencolok dari rencana awal (master plan).
“Kita mengecek hasil dari pekerjaan tahap pertama dari anggaran. Ya alhamdulillah seperti yang kita lihat lah bahwa sampai hari ini bangunan sudah sesuai dengan apa yang disajikan. Walaupun berbeda dengan yang diekspos di awal,” ungkapnya di lokasi proyek kepada NTBSatu, Kamis, 8 Januari 2026.
Salah satu poin utama adalah hilangnya unsur kearifan lokal, seperti simbol Lumbung Mataram yang seharusnya menonjol pada fasad gedung. Komisi III meminta Dinas PUPR, agar menyisipkan kembali identitas daerah tersebut pada tahap pembangunan berikutnya.
“Masalah ini sudah kami pertanyakan kepada Kadis PUPR ketika sidang pertama, perubahan dari master plan yang pertama dengan realisasi saat ini itu berbeda jauh. Di tahap pertama itu memang kelihatan ada kearifan lokal di situ,” jelasnya.
Mereka menyarankan, agar desain gerbang utama atau area depan gedung nantinya mengadopsi bentuk lumbung. “Harapannya tentunya ada nanti pekerjaan tahap lanjutan di mungkin di gerbang masuk kah atau di areal depan, itu dimasukkan kearifan lokal seperti lumbung dan lain sebagainya,” ujar Rachman.
Antisipasi Kemacetan dan Banjir
Mengingat lokasi kantor berada di area padat, Komisi III menaruh perhatian besar pada potensi kemacetan di Jalan Gajah Mada yang merupakan jalur sibuk pada hari kerja. Untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan, pemerintah menyiapkan skema akses lalu lintas (lalin) yang lebih teratur.
“Menurut Bu Kadis tadi, gerbang masuk di depan gedung Wali Kota ini hanya untuk pihak-pihak tertentu. Jadi untuk pegawai dan lainnya masuk melalui Dokter Sujono yang di sebelah perpustakaan,” urainya.
Ia juga menekankan pentingnya infrastruktur pendukung. “Tadi kami melihat ada pembangunan yang menghubungkan antara Dokter Sujono dengan areal ini. Mungkin itu sudah menjadi kajian daripada Amdal Lalin-nya”, tambah Rachman.
Selain macet, dewan juga mewaspadai masalah banjir karena wilayah tersebut merupakan daerah resapan air. “Catatan kecil seperti genangan air yang ada di rooftop itu seperti apa penanganannya ke depan, karena kita tahu wilayah ini adalah wilayah rawan banjir, rendaman resapan air. Tentunya ini menjadi atensi bagi Pemkot juga agar ketika sudah operasional nantinya tidak ada masalah,” tegasnya. (*)



