Hasil Studi Mandiri, Sekda Lotim Perkenalkan SIPETAS Model Baru Pengentasan Stunting
Lombok Timur (NTBSatu) – Sekretaris Daerah Lombok Timur (Sekda Lotim), M. Juaini Taofik memperkenalkan Model SIPETAS sebagai pendekatan baru pengentasan stunting di Lombok Timur.
Model ini lahir dari hasil studi mandiri yang ia lakukan dalam disertasi program doktoralnya dan menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat, bukan sekadar penguatan program administratif.
Juaini Taofik mengungkapkan, persoalan stunting di Lombok Timur tidak hanya dipicu faktor ekonomi dan akses layanan kesehatan. Tetapi juga, dipengaruhi kuat oleh persepsi sosial dan budaya di tingkat keluarga. Temuan tersebut ia peroleh langsung dari penelitian lapangan secara mendalam.
Dalam salah satu wawancara, Juaini Taofik mengaku terkejut mendengar alasan seorang ibu muda di Lombok Timur yang menolak menyusui anak pertamanya hingga mengalami stunting.
“Ibu tersebut bukan tidak memahami manfaat besar ASI eksklusif, tapi dia lebih khawatir terhadap perubahan bentuk tubuhnya dan pandangan sosial,” jelas Taofik dalam forum Pojok Jurnalis FJLT, Selasa malam, 6 Januari 2026.
Temuan lapangan itu menunjukkan, kebijakan penurunan stunting di Lombok Timur belum sepenuhnya menyentuh aspek perubahan perilaku masyarakat.
Dalam disertasinya, Juaini Taofik menyimpulkan, pemerintah daerah sebenarnya telah memiliki dasar regulasi dan struktur kelembagaan yang memadai. Namun, pelaksanaan kebijakan masih bersifat administratif dan prosedural.
Penelitian tersebut juga menegaskan, implementasi kebijakan penurunan stunting secara empiris mengikuti tahapan Simpson/TCU Program Change. Mulai dari exposure, adoption, implementation, hingga practice atau sustainment.
Namun, transisi menuju praktik berkelanjutan masih terhambat, terutama pada fase perubahan perilaku keluarga dan masyarakat. Juaini Taofik menjelaskan, efektivitas kebijakan sangat dipengaruhi faktor implementasi dalam model George C. Edwards III, yakni komunikasi, sumber daya, disposisi pelaksana, dan struktur birokrasi.
Hambatan Pengentasan Stunting Lombok Timur
Ia menilai ketidaksinkronan komunikasi, keterbatasan sumber daya, perbedaan komitmen pelaksana, serta lemahnya koordinasi lintas sektor masih menjadi hambatan utama di Lombok Timur.
Selain itu, ia menilai dimensi sosial, budaya, dan keagamaan memiliki peran strategis dalam mendukung keberlanjutan penurunan stunting. Namun, aspek-aspek tersebut belum terintegrasi secara sistematis dalam desain dan implementasi kebijakan daerah.
Pemanfaatan data stunting pun masih sebatas kebutuhan administratif dan pelaporan, belum optimal sebagai dasar pengambilan keputusan strategis.
Pada bagian akhir penelitiannya, Juaini Taofik menegaskan, keberhasilan pengentasan stunting tidak hanya bergantung pada kelengkapan regulasi dan program pemerintah.
Pemerintah daerah, menurutnya, harus mampu membangun kesiapan organisasi, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui forum Pojok Jurnalis tersebut, Juaini Taofik secara resmi memperkenalkan Model SIPETAS. Model ini mengintegrasikan kerangka Edwards III, tahapan perubahan kebijakan Simpson, serta kearifan lokal dan modal sosial masyarakat sebagai pengungkit utama keberlanjutan kebijakan penurunan stunting di Lombok Timur.
“Penelitian ini menegaskan bahwa Lombok Timur membutuhkan model implementasi kebijakan yang adaptif dan kontekstual. Agar upaya penurunan stunting berjalan lebih efektif, responsif terhadap kondisi lokal, dan berkelanjutan dalam jangka panjang,” terangnya. (*)



