Pemkot Mataram Alokasikan Rp1 Miliar Bangun 20 Huntara untuk Korban Banjir

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mulai membangun 20 unit hunian sementara (huntara) bagi warga yang rumahnya rusak akibat banjir besar, pada 6 Juli 2025 lalu.
Sekda Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri mengatakan, pembangunan ini adalah langkah awal untuk membantu warga terdampak agar memiliki tempat tinggal layak selama masa pemulihan.
“Untuk tahap pertama, kita bangun 20 unit. Kemarin sudah peletakan batu pertama oleh Pak Wali Kota,” kata Alwan, Senin, 14 Juli 2025.
Lokasi pembangunan huntara tersebar di dua wilayah di Kecamatan Cakranegara, yaitu 7 unit di Lingkungan Karang Jero, Kelurahan Karang Taliwang dan 13 unit di Lingkungan Pamotan, Kelurahan Mayure.
Lahan yang digunakan merupakan aset pemerintah provinsi dan kota. Proses pembangunan huntara melibatkan Kementerian PUPR dan Balai Wilayah Sungai (BWS), agar konstruksi bisa segera mulai dan berjalan lancar.
“Kita koordinasi agar 20 unit ini bisa cepat dibangun,” ujarnya.
Sambil menunggu huntara rampung, warga terdampak sementara berada di eks Kantor Lurah Mayure. Pembangunan huntara di Karang Jero jadi prioritas, dengan target rampung dalam 15 hari, lalu unit lainnya di Pamotan.
Selain dua lokasi tersebut, ada juga bantuan dari pihak swasta. DPD Real Estate Indonesia (REI) NTB akan membangun 1 unit huntara di Kekalik dan kemungkinan tambahan unit di Majeluk, yang saat ini masih dalam tahap penilaian kelayakan.
Untuk merealisasikan program ini, Pemkot Mataram menganggarkan lebih dari Rp1 miliar. Dana tersebut tidak hanya untuk bangunan huntara, tetapi juga untuk fasilitas pendukung seperti air bersih dan sanitasi.
“Anggarannya bisa lebih karena kita lengkapi dengan sarana prasarana,” tambah Alwan.
Alwan menyebut, pembangunan huntara bersifat semi permanen dengan bahan dan desain yang serupa dengan hunian relokasi di Pondok Perasi. Sehingga, cukup nyaman dan layak masyarakat tinggali dalam jangka waktu tertentu.
“Kita ingin semua proses berjalan cepat supaya warga terdampak tidak terlalu lama tinggal di tempat pengungsian. Ini jadi prioritas,” pungkasnya. (*)