Daftar 11 Anggota Tetap BRICS, Indonesia Masuk Terakhir

7. Ethiopia (Bergabung: 2024)
Peran: Ethiopia membawakan perspektif Afrika Timur dan pembangunan berbasis inklusi. Sebagai negara berkembang dengan pertumbuhan cepat, Ethiopia memperkuat dimensi pembangunan jangka panjang BRICS.
8. Iran (Bergabung: 2024)
Iran menghadirkan kekuatan energi, khususnya minyak dan gas ke dalam BRICS. Selain itu, kehadiran Iran mencerminkan upaya BRICS untuk menjadi penyeimbang kekuatan ekonomi dan politik global yang didominasi Barat.
9. Uni Emirat Arab (Bergabung: 2024)
UEA memperkaya kekuatan finansial BRICS dan menjadi penghubung strategi antara Timur Tengah dan Asia. Negara ini juga berperan dalam pengembangan teknologi masa depan dan sektor logistik global.
10. Arab Saudi (Bergabung: 2024)
Meski disebut telah menjadi bagian dari BRICS di situs web resmi BRICS, Arab Saudi sejauh ini belum secara resmi bergabung menjadi anggota penuh.
Meski status formalnya belum final, banyak pihak yang menganggap kehadiran Arab Saudi dalam berbagai agenda BRICS sudah mempunyai niat positif untuk mendekati persekutuan tersebut.
Sebagai pengekspor minyak terbesar di dunia, Arab Saudi membawa kekuatan strategi dalam sektor energi global.
Masuknya negara Teluk ini akan memperkuat pengaruh BRICS di kawasan Timur Tengah, sekaligus memperluas jangkauan kelompok geopolitik ini ke dunia Arab dan Islam.
11. Indonesia (Bergabung: 2025)
Sebagai wakil utama dari Asia Tenggara, Indonesia menjadi jembatan antara BRICS dan kawasan Indo-Pasifik.
Dengan strategi dan posisi terbesar di ASEAN, Indonesia berkontribusi dalam membentuk kerja sama Selatan-Selatan serta memperjuangkan reformasi ekonomi tata kelola global.
Posisi Indonesia disebut bisa memperkuat ekspansi keanggotaan ini memperkuat posisi BRICS sebagai kekuatan alternatif dalam sistem internasional yang kian multipolar.
Aliansi ini tidak hanya menjadi forum kerja sama ekonomi, tetapi juga platform geopolitik penting yang memperjuangkan suara negara-negara berkembang di panggung global. (*)